Harga minyak dunia ditutup melemah pada Jumat, dan penurunan mingguan terbesar sejak 2022 menambah kekhawatiran investor menjelang pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat. Pembicaraan ini dimaksudkan untuk mengamankan gencatan senjata permanen, namun pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan. Di tengah situasi ini, para pelaku pasar menilai bahwa dinamika geopolitik bisa menambah volatilitas harga minyak.
Brent mentah turun 0,8 persen ke level sekitar 95,20 dollar per barel, sedangkan WTI turun lebih dalam sekitar 1,3 persen ke 96,57 dollar per barel. Penurunan mingguan mencapai catatan terbesar sejak 2020 dalam dua dekade terakhir, menegaskan tekanan selama beberapa pekan terakhir pada harga minyak. Ketakutan atas gangguan suplai melalui Selat Hormuz dan tindakan sanksi tambahan membuat pergerakan harga tetap rapuh.
Analisis teknikal menjelaskan bahwa harga cenderung berada dalam kisaran yang rapuh antara dukungan dan resistance seiring pasar menimbang arus masuk pasokan dan upaya diplomasi. Pada saat yang sama, investor menilai risiko geopolitik dengan seksama karena jalur pengiriman utama melalui teluk tersebut berpotensi kembali normal jika negosiasi berjalan lancar. Cetro Trading Insight mencatat bahwa volatilitas bisa meningkat menjelang perkembangan diplomatik berikutnya.
Jalur perairan Selat Hormuz masih sangat terbatas, dengan lalu lintas kapal di bawah 10 persen dari volume normal setelah peringatan Iran kepada kapal untuk tetap berada di perairan teritorialnya. Ketidakpastian mengenai bagaimana lalu lintas akan pulih menjadi pemicu utama volatilitas harga minyak. Proyeksi aliran minyak melalui jalan strategis ini tetap rentan dan memicu spekulasi mengenai biaya bagi kapal yang melintas.
Iran juga mengemukakan rencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi selat dalam kerangka perjanjian damai. Pihak Barat menolak gagasan ini dan menegaskan bahwa aturan pelayaran internasional harus tetap berjalan. Informasi ini memperlihatkan dinamika negosiasi yang masih stagnan dan memperburuk sentimen risiko bagi pasar minyak dunia.
Produksi minyak Arab Saudi dan negara lain di Timur Tengah juga terdampak karena gangguan fasilitas energi. Kantor berita negara Saudi menyebutkan pengurangan kapasitas produksi sekitar 600.000 barel per hari dan penurunan aliran pipa sekitar 700.000 bpd. Situasi ini memperlihatkan bagaimana gangguan infrastruktur berinteraksi dengan upaya menjaga pasokan global, sehingga pasar akan terus mencermati perkembangan di wilayah tersebut.
Para analis menilai bahwa pukulan besar terhadap produksi minyak global akibat perang Iran berpotensi mengubah pasar minyak menjadi defisit pasokan pada tahun ini. Hal ini bisa menghapus proyeksi kelebihan pasokan yang sebelumnya diperkirakan. Namun pasar juga menimbang progres diplomatik yang bisa memulihkan arus minyak melalui jalur utama dengan lebih cepat.
Pembahasan kebijakan juga menyoroti langkah langkah PBB dan negara negara Barat terkait sanksi serta perpanjangan izin pembelian minyak dan produk minyak Rusia. Ada indikasi bahwa beberapa negara akan mendapatkan kelonggaran tertentu untuk menjaga keseimbangan supply, meskipun hal ini menambah ketidakpastian jangka pendek bagi harga minyak. Sinyal ini menjadi fokus investor dalam beberapa hari mendatang.
Sebagai catatan opini dari Cetro Trading Insight, pasar minyak tetap menantikan sinyal jelas dari negosiasi Iran-AS. Dari sudut pandang operasional, volatilitas bisa dimanfaatkan untuk strateg i lindung nilai dan akumulasi posisi pada level harga yang wajar. Namun risiko geopolitik tetap menjadi risiko utama yang perlu diawasi oleh trader dan pelaku industri.