Ketegangan di Selat Hormuz memicu serangan volatilitas harga minyak global. Ketidakpastian geopolitik, terutama terkait akses pelayaran di jalur strategis, membuat pelaku pasar berdebar menanti arah pergerakan mingguan. Dalam konteks ini, dinamika di Hormuz menjadi batu pijakan utama bagi proyeksi pasar energi dunia.
Di akhir pekan, Iran kembali memperketat kontrol atas jalur pelayaran tersebut, yang menyebabkan proses pengiriman minyak sempat terhenti. Negara itu sempat membuka akses pelayaran sebelumnya, namun kemudian menutupnya lagi dengan alasan pelanggaran kesepakatan oleh AS. Perkembangan ini menambah risiko bagi pasokan minyak global menjelang masa gencatan senjata AS yang berakhir.
Para analis menilai negosiasi antara AS dan Iran berjalan rumit tanpa kepastian hasil, meski kedua pihak mengklaim ada kemajuan. Kondisi ini meningkatkan volatilitas harga dan membuat pasar energi rentan terhadap eskalasi lebih lanjut. Secara ekonomi, hal itu menjadi barometer risiko bagi investor yang terpapar pada komoditas energi.
Kontrak minyak berjangka WTI untuk pengiriman terdekat melonjak hingga 8,0 persen ke 90,53 dolar AS per barel, sedangkan Brent naik sekitar 6,7 persen ke 96,45 dolar per barel pada pembukaan minggu ini. Lonjakan harga mengikuti proyeksi gangguan pasokan dan respons pasar terhadap eskalasi geopolitik. Namun, pasar sempat mengalami koreksi tajam pada perdagangan Jumat sebelumnya, mencerminkan volatilitas yang tinggi.
Dari sisi teknikal, analis mencatat tren utama masih berada dalam fase penurunan yang dikaji di kalangan pelaku pasar. Harga minyak kini menguji area support krusial di kisaran 79,73 hingga 78,97 dolar per barel. Jika support tersebut tertembus, estimasi penurunan dapat berlanjut ke 73,56 dolar dan bahkan mendekati MA-200 di sekitar 65,49 dolar per barel.
Sebaliknya, jika ada rebound, resistance terdekat berada pada kisaran 91,66 hingga 94,65 dolar. Dengan volatilitas tinggi, banyak pelaku pasar menerapkan pola sell on rally, buy on dip sebagai strategi utama. Analis menekankan pentingnya menunggu konfirmasi pergerakan harga sebelum mengambil posisi, mengingat dinamika pasar ini sangat fluktuatif.
Dari sisi fundamental, gangguan pasokan akibat konflik di Iran menjadi pendorong utama perubahan pasar. Reuters menilai lebih dari 500 juta barel minyak dan kondensat telah keluar dari pasar sejak akhir Februari, menjadikannya salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern. Produksi global juga tertekan, dengan aliran gangguan mencapai sekitar 12 juta barel per hari, dan pemulihannya diperkirakan lambat.
Beberapa ladang minyak di Kuwait dan Irak dilaporkan memerlukan waktu hingga lima bulan untuk kembali ke level normal, menambah argumen bahwa volatilitas bisa tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Meski ada peluang pemulihan, pasar menimbang bahwa jalur pasokan tidak segera stabil, sehingga risiko harga tetap menguat kepada para trader. Dalam konteks ini, strategi trading perlu diterapkan dengan manajemen risiko yang ketat.
Kesimpulannya, para investor sebaiknya memantau perkembangan geopolitik dan data fundamental untuk menghindari kejutan. Cetro Trading Insight menganjurkan pendekatan menyeluruh: gabungkan analisa fundamental dengan pemahaman teknikal untuk mengelola risiko. Platform ini menegaskan bahwa volatilitas tinggi menuntut disiplin, terutama bagi investor yang ingin mempertahankan posisi pada crude oil seperti WTI.