Minyak Melejit di Tengah Ketidakpastian Hormuz dan UAE Keluar OPEC+: Analisis dari Cetro Trading Insight

Minyak Melejit di Tengah Ketidakpastian Hormuz dan UAE Keluar OPEC+: Analisis dari Cetro Trading Insight

Signal /WTIBUY
Open99.930
TP111.500
SL99.000
trading sekarang

Ledakan harga minyak terjadi di tengah kekhawatiran berlarut atas keterbatasan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz. Gejolak geopolitik ini menegaskan betapa rapuhnya rantai pasokan energi global. Cetro Trading Insight menyajikan gambaran jelas untuk pembaca awam agar bisa mengikuti arah pergerakan pasar tanpa jargon berlebihan.

Brent untuk kontrak Juni melonjak 2,8% menjadi 111,26 USD per barel, dan tren naik telah bertahan selama tujuh hari berturut-turut. Sementara itu, minyak mentah WTI untuk Juni naik 3,7% ke 99,93 USD per barel, meski sempat menembus angka 100. Pergerakan kedua benchmark mencerminkan sentimen pasar yang tetap bullish meski ada tengara teknis.

Kenaikan sempat berkurang setelah Uni Emirat Arab menyatakan akan keluar dari OPEC+ mulai 1 Mei, menekan harapan perbaikan pasokan oleh aliansi produsen utama. Namun, dengan Hormuz secara efektif tertutup, jalur distribusi minyak tetap terganggu sehingga harga kemungkinan naik secara bertahap. Beberapa analis menilai bahwa risiko geopolitik berlanjut dan pembahasan damai belum jelas.

Keluarnya UAE dari OPEC+ memang menambah dinamika geopolitik bagi pasar minyak. Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz menjaga ketidakpastian pasokan sehingga dampak politisnya tidak sederhana. Para pelaku pasar perlu menilai kombinasi kebijakan produksi dengan risiko gangguan rute pelayaran.

John Kilduff dari Again Capital memperingatkan bahwa secara normal langkah UAE akan sangat bearish karena meningkatkan pasokan, tetapi kenyataannya jalur pengiriman lewat Hormuz masih tertutup, sehingga kelebihan pasokan belum terasa penuh. Akibatnya, harga minyak diperkirakan terus naik secara bertahap meski ada tindakan produksi tambahan dari negara anggota.

Data pelacakan kapal menunjukkan gangguan signifikan di wilayah itu, dengan enam tanker Iran terpaksa berbalik arah akibat blokade AS, meski beberapa kapal tetap melintas. Ada kapal LNG ADNOC dan tanker milik Saudi yang tetap melalui jalur tersebut, menunjukkan bahwa rute pasokan tidak sepenuhnya putus. Analis seperti Jorge Leon dari Rystad Energy menyebut risiko gangguan berkepanjangan bisa mendukung harga sepanjang konflik berlanjut.

Prospek Harga dan Implikasi Energi Global

Bank Dunia menyatakan harga energi global bisa meningkat hingga 24% pada 2026, meski gangguan pasokan di Timur Tengah melunak pada bulan Mei. Proyeksi dasar mereka mengasumsikan lalu lintas di Selat Hormuz pulih bertahap hingga Oktober, namun risiko tetap condong ke arah kenaikan harga. Analisis ini disampaikan untuk pembaca melalui Cetro Trading Insight, sebagai panduan memahami skenario pasar energi.

Di AS, harga bensin mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun, menambah beban biaya transportasi. Laporan industri menunjukkan persediaan bensin menurun lebih tajam dari perkiraan, sementara stok minyak mentah juga turun jauh dari konsensus para analis. Laporan resmi EIA akan dirilis untuk memberikan konfirmasi arah tren selanjutnya.

China juga terlihat mempertimbangkan ekspor bahan bakar pada Mei setelah CNPC mengajukan izin, seperti dilaporkan Financial Times yang mengutip pedagang. Langkah ini bisa menambah pasokan global namun dampaknya terhadap harga minyak jangka pendek masih bergantung pada bagaimana permintaan dan kendala logistik berreaksi. Cetro Trading Insight akan terus memantau perkembangan ini untuk memberikan gambaran yang komprehensif.

banner footer