Guncangan geopolitik di Teluk Hormuz kembali mengubah arah trade di Asia. Serangan terhadap kapal dagang meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dan memicu lonjakan volatilitas. Dalam konteks ini, para manajer aset menilai risiko jangka panjang bahwa konflik bisa bertahan lebih lama dari dugaan.
Lonjakan minyak hampir 5% memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong biaya pinjaman lebih tinggi di banyak negara. Para analis menilai bahwa langkah IEA untuk melepas cadangan minyak dalam jumlah besar tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar. Kebijakan tersebut menambah tekanan pada likuiditas dan volatilitas pasar saham global, termasuk Asia.
Jepang, yang bergantung pada Timur Tengah sekitar 95 persen pasokan minyaknya, merencanakan pelepasan sekitar 80 juta barel cadangan strategisnya, setara hampir 45 hari pasokan. Langkah itu bertujuan menahan lonjakan harga, meski dampaknya terhadap pasar global masih terbatas. Analisa di Cetro Trading Insight menekankan bahwa volatilitas tetap tinggi hingga dinamika geopolitik mereda.
Nikkei turun 0,72 persen dan Topix melemah 1,09 persen, mencerminkan perubahan sentimen di pasar saham Asia. Pergerakan itu mencerminkan keraguan investor terhadap prospek ekonomi jangka menengah. Indeks- indeks utama menunjukkan dinamika yang lebih sensitif terhadap perubahan harga energi.
Harga minyak WTI melonjak 7.5 persen menjadi USD93.80 per barel dan Brent mencapai USD99.03 per barel, memperpanjang tren kenaikan di sesi sebelumnya. Kontrak berjangka saham Wall Street juga melemah dengan S&P 500 turun 0.8 persen dan Dow Jones futures anjlok sekitar 462 poin. Pasar berjangka melukiskan ketidakpastian yang meluas ke alat-alat aset berisiko.
Di wilayah regional, ASX 200 turun 1.23 persen, KOSPI turun tipis 0.13 persen, Hang Seng turun 0.44 persen, STI turun 0.11 persen, dan Shanghai Composite tergelincir 0.08 persen. Investor menilai bahwa lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi dan biaya pembiayaan global, sehingga minat risiko menyusut secara umum.
Analis IG Tony Sycamore menilai bahwa sejumlah kapal tanker Irak terbakar di Teluk Persia dan respons Iran terhadap rencana pelepasan cadangan minyak IEA memperkuat pandangan bahwa dinamika geopolitik adalah penggerak utama pasar saat ini. Ia menilai konflik bisa bereskalasi jika tak ada jalur diplomatik yang efektif. Pasar masih mencoba menilai bagaimana kebijakan cadangan besar-besaran akan mempengaruhi pasokan dan harga minyak di jangka menengah.
Iran memperingatkan kemungkinan harga minyak mencapai USD200 per barel, menambah tekanan pada prospek inflasi global. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan perang melawan Iran telah dimenangkan, tetapi menegaskan bahwa operasi akan berlanjut hingga tujuan selesai, menambah ketidakpastian di pasar keuangan. Kondisi ini mendorong para pelaku pasar untuk menimbang risiko geopolitik terhadap portofolio mereka.
Cetro Trading Insight menekankan perlunya fokus pada faktor fundamental, manajemen risiko, dan diversifikasi portofolio. Pengamat menyoroti bahwa pergerakan harga minyak tetap menjadi titik fokus utama bagi kebijakan moneter dan nilai tukar. Pembaca juga disarankan memantau perkembangan konflik dan langkah kebijakan suku bunga sebagai komponen penting dalam potensi peluang investasi ke depannya.