US Dollar Index bergerak lebih tinggi sekitar 99.35 pada sesi Asia, menandakan pergeseran sentimen investor menuju aset safe-haven. Eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah memperkuat permintaan terhadap dolar terhadap mata uang mitra rivalnya. Para pelaku pasar menilai risiko pasokan minyak melalui jalur penting Selat Hormuz dan potensi dampaknya bagi likuiditas global.
Iran melancarkan operasi intensif sejak perang meningkat, berupaya menghambat aliran melalui jalur minyak utama. Bahrain melaporkan bahwa Iran menargetkan tangki bahan bakar di fasilitasnya, menambah kekhawatiran akan insiden rute energi. Seorang pejabat pelabuhan Irak menyebut dua kapal asing telah terkena dampak, menyala dan mengalami kebocoran minyak di wilayahnya.
Ketegangan yang berkelanjutan di Timur Tengah memberikan dukungan bagi dolar AS dalam jangka pendek. Pelaku pasar tetap memantau pergerakan sentimen menjelang rilis data klaim pengangguran awal AS, yang berpotensi mempengaruhi kebijakan Fed. Sinyal pasar saat ini adalah dolar dapat terus menguat bila eskalasi geopolitik berlanjut atau data ekonomi tidak melunak.
Indeks Harga Konsumen CPI AS bulan Februari naik 0.3% secara bulanan, sesuai dengan ekspektasi pasar. Data tersebut menunjukkan bahwa inflasi inti juga tumbuh moderat, dengan core CPI naik 0.2% dibanding bulan sebelumnya. Secara tahunan, laju inflasi tidak berubah dari Januari, menandakan tekanan harga tetap di atas target Fed tanpa memburuk lebih lanjut.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan volatilitas harga makanan dan energi, naik 0.2% MoM pada Februari dan sejalan dengan estimasi pasar. Data ini menegaskan bahwa tekanan inflasi tidak menunjukkan percepatan signifikan meski tetap berada di zona yang relevan bagi kebijakan moneter. Pasar menilai bahwa Federal Reserve kemungkinan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan mendatang.
Menurut alat CME FedWatch, peluang Fed mempertahankan suku bunga mendekati 99.5%. Gambaran kebijakan yang tetap dovish menambah nuansa kehati-hatian bagi investor dolar. Secara umum, data inflasi yang stabil menguatkan pandangan bahwa dolar bisa tetap bertahan di level tinggi dalam waktu dekat.
Berdasarkan konten artikel, sinyal perdagangan untuk Indeks DXY adalah beli yaitu buy dengan dukungan data CPI yang stabil dan eskalasi geopolitik yang meningkatkan permintaan terhadap dolar. Dolar cenderung menguat saat risiko geopolitik meningkat karena investor mengalihkan dana ke aset aman. Data inflasi yang tidak melorot juga memberi fondasi bagi pergerakan dolar yang lebih kuat dalam beberapa minggu ke depan.
Rencana entry adalah open di sekitar 99.35, dengan stop loss di 97.85 dan take profit di 101.60. Rasio risiko-imbalan diperkirakan sekitar 1:1.5, memenuhi kriteria manajemen risiko yang diinginkan. Trader disarankan meninjau posisi secara berkala seiring perubahan risiko makro dan dinamika geopolitik.
Perlu diingat bahwa pasar bisa berbalik jika data pekerjaan lebih kuat atau jika eskalasi geopolitik mereda. Sinyal ini bersifat analisa saat ini dan tidak menjamin hasil, sehingga manajemen risiko tetap menjadi prioritas utama bagi setiap trader.