Minyak Menguat Setelah Inventori AS Turun dan Serangan di Hormuz Memicu Gejolak Pasokan

Minyak Menguat Setelah Inventori AS Turun dan Serangan di Hormuz Memicu Gejolak Pasokan

Signal BR/ENTBUY
Open101.910
TP104.780
SL100.000
trading sekarang

Kinerja harga minyak global kembali memicu sorot investor. Brent melonjak lebih dari 3% dan WTI naik mendekati 93 dolar per barel, menunjukkan momentum yang kuat di pasar energi. Lonjakan ini dipicu oleh penurunan tak terduga pada stok bensin dan distilat di Amerika Serikat, meskipun stok mentah meningkat. Kebijakan pasokan dan dinamika permintaan menambah volatilitas di pasar energi.

Data EIA menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS naik 1,9 juta barel menjadi 465,7 juta. Sementara itu, stok bensin turun 4,6 juta barel menjadi 228,4 juta, jauh melampaui ekspektasi analis yang menilai penurunan sekitar 1,5 juta barel. Stok distilat juga turun 3,4 juta barel menjadi 108,1 juta, lebih besar dari perkiraan penurunan 2,5 juta barel. Perbedaan arah ini menyiratkan tekanan pada struktur pasokan jangka pendek yang dapat menopang harga.

Secara teknikal, pergerakan harga menunjukkan respons terhadap data inventori yang dirilis. Pasar juga berada di bawah sorotan pembahasan damai antara AS dan Iran yang terhenti, menambah volatilitas jangka pendek. Menurut analisis dari Cetro Trading Insight, dinamika geopolitik memperkaya risiko di sekitar rute perdagangan minyak dan bisa memicu retracement atau kelanjutan tren saat berita baru muncul.

Saat serangan tembakan menimpa kapal kontainer di Selat Hormuz, risiko gangguan pasokan global meningkat. Insiden ini menambah tekanan pada ekspor minyak dari wilayah utama penghasil energi. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyita dua kapal dengan alasan pelanggaran maritim, menambah keguncangan pada rute pengapalan utama melalui Selat Hormuz.

Ketegangan antara AS dan Iran berlanjut meskipun ada pengumuman gencatan senjata yang diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS. Ketidakpastian mengenai apakah Iran atau sekutu AS akan menyetujui perpanjangan tetap menjadi faktor utama volatilitas harga. Pasokan dari wilayah itu tetap rentan terhadap perubahan kebijakan dan tindakan militer yang bisa memotong jalur pasokan.

Di sisi regional, serangan di Lebanon oleh pasukan Israel dan serangan drone Hizbullah menambah risiko konflik regional. Kondisi ini memperbesar peluang gangguan aliran minyak melalui jalur perdagangan utama. Secara keseluruhan, dinamika geopolitik memperparah sentimen pasar dan meningkatkan intensitas pergerakan harga minyak mentah.

Strategi Pasar dan Potensi Pergerakan Selanjutnya

Analisis pasar menunjukkan bahwa dinamika supply-demand saat ini berpeluang menjaga tren bullish jangka pendek bagi minyak mentah. Penurunan stok bensin dan distilat AS menambah daya dorong pada harga sementara lonjakan harga di sesi sebelumnya mencerminkan optimisme pasar terhadap permintaan. Namun volatilitas tetap tinggi karena risiko geopolitik yang berlarut-larut dan ketidakpastian negosiasi damai AS-Iran.

Bagi para trader, jika harga Brent bertahan di atas level sekitar 102 dolar per barel, potensi pergerakan menuju 105–106 dolar per barel cukup realistis. Namun jika pasar berbalik, support di sekitar 100 dolar menjadi zona penting untuk pembatasan kerugian. Strategi ini sejalan dengan rekomendasi manajemen risiko dari Cetro Trading Insight untuk menjaga eksposur di tengah volatilitas.

Rekomendasi manajemen risiko mencakup penggunaan stop-loss di sekitar 100,0 dolar per barel untuk membatasi kerugian jika sentimen pasar berubah. Target keuntungan sekitar 104,5–104,8 dolar per barel dapat dicapai seiring stabilnya data pasokan dan perkembangan diplomasi. Selalu evaluasi harga penutupan harian dan berita geopolitik untuk menyesuaikan posisi secara tepat.

IndikatorNilai
Brent101,91 USD/bbl (penutupan)
Stok mentah AS465,7 juta bbl
Bensin AS228,4 juta bbl
Distilat108,1 juta bbl
broker terbaik indonesia