MUFGs Senior Currency Analyst Lloyd Chan menilai bahwa kegagalan putaran pembicaraan AS-Iran dan perpanjangan gencatan senjata AS telah mendorong konflik ke keadaan standoff yang berkepanjangan. Blokade pelabuhan Iran juga mengalami kelanjutan, sehingga risiko terganggunya aliran energi melalui Selat Hormuz tetap tinggi. Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian bagi pasar energi global dan menambah tekanan pada harga minyak.
Brent untuk pengiriman Juni tetap berada di wilayah tinggi, mendekati level USD100 per barel. Sementara itu, indikator makro seperti Indeks Dolar Amerika (DXY) berada di sekitar 98.4 dan imbal hasil US 10-tahun terpantau mendekati 4.3%, menunjukkan pasar makro relatif terkendali meskipun gejolak geopolitik sedang berlangsung.
Menurut laporan Cetro Trading Insight, dinamika geopolitik tetap menjadi poros utama yang menjaga Brent di level tinggi. Upaya negosiasi kedua yang awalnya dirundingkan belum membuahkan kesepakatan, sementara otoritas AS melanjutkan blokade pelabuhan Iran untuk menekan Tehran dalam pembahasan damai. Pasokan minyak melalui Hormuz tetap rentan terhadap gangguan jika situasi memburuk.
Harga Brent berada di sekitar USD100 per barel, didorong oleh risiko gangguan pasokan akibat eskalasi konflik. Di sisi lain, DXY yang stabil di kisaran 98.4 dan yield US 10-tahun yang kurang berubah memberi konteks bahwa pasar belum sepenuhnya bergejolak secara makro meskipun kebijakan geopolitik menambah ketidakpastian. Para pelaku pasar memperhatikan sinyal dari kedua belah pihak terkait kemungkinan kelanjutan blokade.
Lingkungan konflik yang berlarut-larut cenderung menjaga dukungan bagi minyak mentah karena potensi gangguan pasokan dari Hormuz. Investor juga menilai bahwa pembatasan aliran minyak dapat berlanjut jika dialog damai tidak membuahkan hasil. Ketidakpastian geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan Brent dalam beberapa minggu mendatang.
Secara teknikal, pergerakan Brent tetap menyisakan peluang jika pasar menilai risiko pasokan lebih besar daripada permintaan. Dengan pendekatan fundamental, skim risiko-reward pada posisi long di Brent bisa mencapai rasio yang menarik bila level resistensi bertahan dan momentum memihak kenaikan.
Guncangan geopolitik ini berpotensi memperburuk gangguan pasokan minyak melalui Hormuz, yang pada gilirannya bisa menjaga dinamika harga Brent tetap berada di zona tinggi. Meski pasar makro menunjukkan kepadatan relatif, volatilitas harga minyak masih responsif terhadap perkembangan konflik dan pernyataan kebijakan negara terkait energi.
Para pelaku pasar mempertimbangkan skenario jika negosiasi AS-Iran meningkat menjadi kesepakatan damai, yang bisa menekan Brent menuju level lebih rendah. Sebaliknya, jika blokade berlanjut dan tekanan politik meningkat, harga minyak bisa bergerak lebih tinggi dan mencoba menembus batas-batas psikologis yang ada.
Saran trading menimbang konteks fundamental adalah mengambil posisi long pada Brent. Target keuntungan ditetapkan di 110 USD per barel, dengan stop loss di 96 USD per barel. Rasio risk-reward lebih dari 1:1.5, sesuai dinamika pasar energi saat ini.