Tim analis OCBC, Sim Moh Siong dan Christopher Wong, menekankan bahwa lonjakan harga minyak memperburuk neraca perdagangan Jepang, meningkatkan risiko fiskal, dan menambah ketidakpastian kebijakan. Kondisi ini menjaga Yen Jepang berada dalam tekanan relatif terhadap mata uang utama dunia. Dalam laporan yang disusun bersama Cetro Trading Insight, mereka menegaskan adanya korelasi negatif antara harga minyak dan performa Yen melalui dinamika perdagangan dan fiskal negara tersebut.
Harga minyak yang lebih tinggi memperburuk impor energi Jepang yang didominasi dari wilayah Timur Tengah. Ketergantungan energi tersebut membuat Yen sangat rentan terhadap kejutan geopolitik maupun perubahan pasokan minyak global. Dampaknya tercermin pada penurunan sentimen investor dan peningkatan volatilitas pasar valuta asing secara umum.
Seandainya harga minyak turun karena mengurangi ketegangan geopolitik, Yen berpotensi mendapatkan sedikit ruang relaksasi. Meski demikian, skenario utama tetap berhitung pada kebijakan BoJ dan faktor geopolitik yang terkait, sehingga target USDJPY akhir 2026 berada di sekitar 155, seperti yang diungkapkan para ahli.
Base case yang dihadirkan OCBC menyiratkan BoJ masih berpotensi menaik pada bulan April meskipun keputusan tesebut sebelumnya adalah menahan kebijakan pada Maret. Perkembangan ini bisa mempengaruhi arah USDJPY tergantung bagaimana bank sentral Jepang menyeimbangkan antara tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak dan sentimen pasar yang rapuh.
Pemilihan kabinet di bawah kepemimpinan PM Takaichi dengan pendekatan reflasi meningkatkan pertanyaan mengenai kemampuan BoJ menjaga kurva inflasi tanpa menambah defisit fiskal secara signifikan. Pasar juga mengamati sinyal-khilah kebijakan fiskal dan preferensi untuk dukungan fiskal terkait pengeluaran pertahanan yang lebih besar.
Dalam konteks teknis, laporan menggarisbawahi bahwa intervensi di pasar mata uang bisa lebih mungkin terwujud dekat level sekitar 160 pada USDJPY daripada tindakan langsung terhadap kontrak minyak berjangka. Kendati demikian, proyeksi jangka panjang tetap menimbang risiko geopolitik dan dinamika kebijakan moneter.
Gejolak geopolitik di Timur Tengah terus menambah ketidakpastian bagi Yen Jepang. Pasar menilai bahwa konflik yang berlarut dapat memperburuk persepsi risiko global dan menambah tekanan pada mata uang Jepang melalui jalur perdagangan dan fiskal.
Reuters melaporkan bahwa Kementerian Keuangan sedang mengeksplorasi opsi intervensi pada kontrak minyak berjangka sebagai bagian dari upaya stabilisasi pasar energi. Langkah ini menambah dinamika di pasar FX karena investor memperhitungkan respons kebijakan publik terhadap volatilitas harga energi.
Secara keseluruhan, analisis menunjukkan bahwa intervensi FX di sekitar USDJPY 160 lebih mungkin dibanding tindakan langsung terhadap minyak berjangka. Dalam skenario dasar, target USDJPY untuk akhir 2026 dinyatakan tetap sekitar 155, mencerminkan keseimbangan antara risiko geopolitik, kebijakan Bank of Japan, dan dinamika energi global. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya mengikuti pembaruan kebijakan dan gej_LABEL geopolitik untuk menilai peluang trading lebih lanjut.