Menurut analisis oleh Cetro Trading Insight, RBA diproyeksikan menahan cash rate di 4,10% hingga kuartal keempat 2026. Keputusan Maret lalu berlangsung split, dipicu oleh goncangan harga energi terkait Iran dan kekuatan pasar tenaga kerja Australia. Kondisi ini menyeimbangkan risiko melambatnya permintaan dengan kebutuhan menahan inflasi pada jalurnya.
Base case bank sentral adalah jeda kebijakan, tetapi pernyataan tersebut menyiratkan bahwa inflasi yang persisten dan efek kedua dari harga energi masih bisa memicu pengetatan lebih lanjut. Risiko ini menambah ketidakpastian proyeksi terkait laju pertumbuhan dan lapangan kerja. 4,10% tetap menjadi level yang dipantau pasar sebagai patokan fleksibel.
Pada saat yang sama, pelaku pasar telah melihat imbal hasil bergerak naik bahkan sebelum konflik geopolitik memanas, karena RBA mengubah sikap dari pelonggaran pada 2025 menjadi pengetatan pada 2026 untuk menahan kapasitas yang terbatas dan risiko inflasi. Anggapan bahwa langkah berikutnya bisa mengubah dinamika pasar obligasi membuat posisi hedging lebih menantang bagi investor.
Segmen ini membahas bagaimana inflasi bisa tetap tinggi seiring tekanan harga energi yang muncul sebagai shock dari geopolitis. Kebijakan RBA menempatkan risiko inflasi persisten sebagai fokus utama, meskipun ruang untuk pelonggaran masih terbuka untuk menjaga pertumbuhan. Dengan pasar tenaga kerja kuat, dampak kebijakan terhadap pendapatan rumah tangga perlu dicermati secara berkala.
Para ekonom menilai bahwa permintaan domestik bisa melambat akibat kejutan geopolitik dan harga energi yang lebih tinggi, meskipun pasar tenaga kerja tetap solid. Dampak tersebut menambah tekanan pada inflasi dan mengubah ekspektasi konsumen terkait biaya hidup. Analisis risiko menunjukkan bahwa kebijakan perlu respons yang seimbang untuk menjaga stabilitas harga tanpa menekan pertumbuhan berlebihan.
Dalam skenario baseline, pemangkasan risiko inflasi menjadi prioritas, namun adanya potensi gelombang kedua tekanan harga membuat prospek inflasi tetap menanjak. RBA memasukkan faktor-faktor eksternal seperti energi dan dinamika permintaan global ke dalam proyeksi, yang dapat memicu perubahan arah kebijakan jika diperlukan. Prospek inflasi jangka menengah tetap menjadi fokus utama pelaku pasar.
Bagi pasar forex, ekspektasi RBA menahan suku bunga hingga 2026 bisa mendukung AUD dalam jangka menengah, tetapi ketidakpastian geopolitik dan pergeseran kebijakan bisa memicu volatilitas. Investor perlu memantau output dari pertemuan 5 Mei untuk melihat arah proyeksi pertumbuhan dan inflasi. Sinyal kebijakan yang jelas akan membantu menilai arah AUD terhadap USD.
Kondisi imbal hasil global yang menguat sebelum berita utama juga memerlukan perhatian karena volatilitas yield Australia dapat memicu pergerakan harga AUDUSD. Perbaikan atau penurunan imbal hasil di pasar global dapat memperkuat peluang atau risiko bagi trader FX. Katalis asing lainnya termasuk dinamika inflasi domestik dan outlook pertumbuhan ekonomi Australia.
Investor akan fokus pada proyeksi pertumbuhan, pasar tenaga kerja, dan inflasi pada pertemuan kebijakan 5 Mei untuk menilai arah kebijakan dan potensi tren jangka menengah. Ketahanan ekononomi Australia terhadap tekanan harga energi akan menentukan jalur kebijakan dan arah pair AUDUSD. Sinyal kebijakan jelas akan membantu pergerakan AUD di berbagai skenario ekonomi.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Suku Bunga Saat Ini | 4,10% |
| Skenario Baseline | Pause |
| Risiko Kenaikan | Ya, tergantung inflasi dan harga energi |
| Faktor Pendukung/Detraktor | Geopolitik, pasar tenaga kerja, tekanan energi |