
Penawaran Tender Wajib (MTO) terhadap INPS akhirnya diselesaikan, menandai babak baru dalam lanskap kepemilikan perusahaan. Pengendali baru, PT Graha Inti Guna Persada, meneguhkan kekuatannya meski dinamika pasar berjalan hati-hati, dengan target maksimal 81,39 juta saham namun hanya 5.000 saham yang terealisasi. Pelaksanaan MTO berlangsung 18 Juni hingga 17 Juli 2026 dengan harga penawaran Rp552 per saham.
Hingga penyelesaian transaksi, jumlah saham yang terserap sekitar 0,006 persen dari total saham beredar. Angka ini mencerminkan minat publik yang sangat rendah terhadap aksi akuisisi tersebut. Absorpsi yang minim menjaga profil likuiditas INPS tetap menjadi isu penting bagi investor.
Setelah MTO, kepemilikan PT Graha Inti Guna Persada di INPS meningkat menjadi 568.623.000 saham, setara 87,48 persen dari total saham beredar yang ditempatkan dan disetor penuh. Sebelumnya, sebelum pelaksanaan MTO, mereka menguasai 568.618.000 saham atau sekitar 87,47 persen. Manajemen INPS menyatakan penyelesaian MTO tidak menimbulkan dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.
Dalam keterangan resminya, manajemen INPS menegaskan tidak ada dampak material terhadap operasional, hukum, keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan. Kepemilikan mayoritas tetap berada pada Graha Inti Guna Persada, sehingga struktur kontrol tidak berubah secara drastis. Meskipun demikian, perubahan minor ini tetap relevan bagi persepsi pasar terhadap stabilitas perusahaan.
Secara pasar, aksi MTO ini terlihat tidak memberi sinyal kuat terhadap likuiditas atau arah harga saham INPS. Absorpsi publik yang sangat rendah menunjukkan minat investor terhadap perubahan kontrol saat ini. Investor perlu memantau kemungkinan rencana ke depan pemegang saham pengendali dan potensi perubahan kebijakan perusahaan.
Cetro Trading Insight menilai bahwa aksi ini lebih mencerminkan strategi kepemilikan jangka panjang dari pengendali utama ketimbang perubahan operasional. Kepemilikan mayoritas yang kuat dapat menekan volatilitas harga jika diiringi rencana operasional dan tata kelola yang jelas. Untuk investor ritel, fokus utama tetap pada kinerja keuangan INPS, rencana pembagian dividen, dan peluang pertumbuhan sektor industri.