OCBC strategists Sim Moh Siong dan Christopher Wong menilai bahwa pelemahan harga minyak, dolar yang lebih lemah, dan penguatan yuan telah membantu pemulihan Ringgit secara parsial. Media Cetro Trading Insight menyajikan gambaran bagaimana dinamika global mempengaruhi mata uang lokal di pasar Asia Tenggara. Analisis ini menekankan bahwa outlook MYR sangat bergantung pada perkembangan di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan minyak.
Faktor-faktor tersebut bekerja dalam dua arah: kinerja minyak yang lebih lemah mengurangi premi risiko pada mata uang komoditas, sementara pelemahan dolar mendukung pelepasan tekanan pada MYR. Selain itu, penguatan RMB juga berperan sebagai faktor dukungan untuk pasar Asia, meskipun dampaknya terbatas secara langsung terhadap MYR. Fokus analisis ini menekankan sinergi antara faktor fundamental dan aliran modal global.
Garis besar jalan diskusi memperhatikan level teknis pada grafik harian, dengan dukungan utama di 3.9150/80 dan 3.90 serta resistance di 3.9550 dan 3.9760 (50 DMA). Jawaban atas bagaimana MYR akan bergerak selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh berita-berita seputar konflik Iran dan potensi gangguan pasokan minyak di daerah itu.
Momentum bullish pada grafik harian MYR terhadap USD tampaknya mulai melemah, dengan RSI yang turun menunjukkan pelemahan momentum uptrend. Hal ini sejalan dengan pergerakan harga yang cenderung berhenti di level support terdekat. Instrumen ini menunjukkan bahwa arah jangka pendek perlu konfirmasi lebih lanjut dari pergerakan harga di atas area resistance utama.
Level-level kunci berada di dukungan segera di 3.9150/80. Jika harga menembus kuat di bawah area tersebut, ekspektasi berikutnya adalah dukungan di 3.90 dan 3.88. Sisi resistance berada di 3.9550 dan 3.9760, yang juga terkait dengan rata-rata bergerak 50 hari (50 DMA).
Dalam konteks ini, trader disarankan memantau reaksi harga di sekitar level-level tersebut untuk konfirmasi arah. Kondisi teknikal saat ini memberi peluang probabilitas yang lebih tinggi pada penyesuaian terhadap level resistance jika momentum kembali menguat, meski sinyal jelas masih menunggu konfirmasi harga.
Jika ketegangan di Timur Tengah mereda dan risiko terhadap jalur pengiriman serta produksi minyak tetap terkendali, premi risiko minyak diperkirakan bisa merunduk dan MYR berpotensi melanjutkan pemulihannya. Dalam skenario ini, perbaikan sentimen risiko secara global dapat mendorong arus masuk modal ke aset berisiko dan menawarkan dukungan bagi MYR terhadap USD.
Namun jika tensi tetap tinggi, seperti Iran yang menggembar-gemborkan scenario USD200 per barel, selera risiko pasar bisa memburuk dan pemulihan MYR yang terlihat di awal pekan bisa terhenti meski dinamika minyak tetap jadi faktor pendukung. Kondisi seperti itu akan menahan laju rebound MYR jika data fundamental tidak menguat secara signifikan.
Faktor-faktor kunci yang perlu diawasi adalah durasi konflik, besarnya gangguan pasokan minyak, serta respons kebijakan dari bank sentral. Kombinasi faktor-faktor ini akan membentuk kerangka risiko bagi MYR dan menentukan sejauh mana pemulihan bisa berlangsung, sambil menjaga fleksibilitas strategi perdagangan yang berfokus pada level teknis utama.