Nikel Menguat Pasca Rencana Pengawasan Ekspor Indonesia: Pasar Waspada Potensi Gangguan Pasokan

Nikel Menguat Pasca Rencana Pengawasan Ekspor Indonesia: Pasar Waspada Potensi Gangguan Pasokan

Signal /BUY
Open18930
TP19650
SL18450
trading sekarang

Harga nikel mengalami lonjakan pada perdagangan hari Rabu, 20 Mei 2026, menyusul langkah Indonesia menempatkan ekspor komoditas strategis di bawah pengawasan ketat. Pada pukul 14.22 WIB, kontrak nikel tiga bulan di London Metal Exchange naik sekitar 0,66 persen menjadi 18.930 dolar AS per ton. Sementara itu di Shanghai Futures Exchange, kontrak nikel paling aktif menguat 1,88 persen dan ditutup di 145.390 yuan.

Menurut data pasar, pergeseran kebijakan memicu kekhawatiran bahwa pasokan nikel olahan seperti nickel pig iron dan feronikel bisa terganggu jika regulasi baru diberlakukan secara ketat. Analisa dari Cetro Trading Insight menekankan bahwa fokus pasar adalah risiko gangguan pasokan di rantai hilir stainless steel global.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan menerbitkan regulasi untuk memperkuat pengawasan ekspor komoditas. Kebijakan tersebut mencakup penjualan komoditas strategis melalui badan usaha milik negara, dengan contoh minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy. Ketentuan ini meningkatkan ekspektasi bahwa ekspor porosi nikel olahan bisa terdampak di masa mendatang.

Di belakang dinamika nikel, harga logam lain juga bergerak. Tembaga di LME naik 0,53 persen menjadi 13.482,50 dolar AS per ton, setelah sempat menyentuh level terendah lebih dari satu minggu di 13.350 dolar. Aluminium naik 0,19 persen, seng tambah 0,81 persen, timbal bertambah 0,20 persen, dan timah melonjak 3,26 persen.

Di SHFE, harga tembaga ditutup turun 0,44 persen. Aluminium naik 0,31 persen, seng menguat 0,57 persen, timbal bertambah 0,36 persen, dan timah melesat 2,05 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap logam utama tetap menyebar, meski nikel mengalami lonjakan akibat ketidakpastian pasokan.

Kebijakan ekspor dan dinamika pasokan global menambah tekanan bagi pasar logam, kata sumber di industri. Investor dan produsen logam menilai bahwa risiko ketatnya pasokan nikel bisa berdampak pada biaya produksi stainless steel di masa depan. Analisis dari Cetro Trading Insight menyoroti potensi perbaikan kinerja nikel jika regulasi ekspor tetap diorientasikan pada pengawasan, bukan pelonggaran atau pembatasan berlebih.

banner footer