
Kinerja NRCA memasuki 2026 dengan arah yang tegas dan ambisi tinggi: perusahaan menargetkan kontrak baru sebesar Rp4 triliun, sebuah loncatan bersejarah meski iklim ekonomi nasional dan global masih menantang. Analisis dari Cetro Trading Insight melihat langkah ini sebagai sinyal positif bagi investor yang mencari ritme pertumbuhan pada sektor konstruksi swasta.
Hingga akhir 2025, sisa kontrak NRCA mencapai Rp3,34 triliun, menandakan visibilitas pendapatan yang cukup kuat untuk tahun mendatang. NRCA juga mencatat kontrak baru sepanjang 2025 sebesar Rp3,11 triliun, membentuk backlog yang memadai untuk rencana 2026.
Segmen jasa konstruksi masih menjadi kontributor utama pendapatan, mencapai 99,75% dari total pendapatan usaha pada 2025. Ketergantungan pada layanan inti ini menempatkan NRCA pada jalur pendapatan yang relatif stabil meski volatilitas sektor konstruksi tetap ada. Perusahaan menegaskan fokus pada kualitas proyek dan hubungan jangka panjang dengan klien sebagai senjata utama menjaga arus kas.
NRCA menegaskan bahwa repeat orders dari pelanggan lama akan menjadi pilar utama untuk memenuhi target kontrak di 2026. Pada saat yang sama, perusahaan juga akan mengejar proyek-proyek bernilai tinggi seperti hotel, apartemen, pusat perbelanjaan, rumah sakit, serta fasilitas pendidikan untuk memperluas portofolio.
Hingga Mei 2026, kontrak baru yang berhasil diraih telah mencapai sekitar Rp1,11 triliun. Proyek-proyek tersebut meliputi Pou Chen Factory Pekalongan, Lampung City Mall Phase 2, New Malio Hotel Hayam Wuruk Jakarta, St Carolus Hospital Gading Serpong, Little Sun School Surabaya, dan Grha Baramulti Jakarta, yang menjadi indikator kemampuan eksekusi NRCA.
Dengan backlog yang tetap kuat dan rencana ekspansi yang terukur, NRCA menilai peluang pertumbuhan jangka panjang tetap realistis meski lingkungan ekonomi nasional masih menantang. Upaya menjaga kualitas kontrak, eksekusi tepat waktu, dan hubungan pelanggan akan menjadi kunci dalam menjaga arus kas serta kapasitas produksi di tahun-tahun mendatang.