
Cetro Trading Insight mengamati kejutan pasar ketika Nvidia mengumumkan penerbitan obligasi US$25 miliar, langkah pendanaan terbesar perusahaan sejak 2021. Langkah ini mengubah dinamika pendanaan korporasi di sektor teknologi, menggabungkan keinginan memperluas likuiditas dengan kebutuhan menjaga kestabilan saldo. Pemberitaan ini menarik karena memberi sinyal niat Nvidia untuk membangun tolok ukur biaya kredit yang lebih kuat di pasar obligasi AS.
Nilai penerbitan ini melebihi rencana awal sekitar US$20 miliar, dan minat investor mencapai sekitar US$85 miliar—lebih dari tiga kali lipat jumlah yang ditawarkan. Obligasi itu diterbitkan dalam tujuh seri dengan tenor hingga 2056. Mayoritas permintaan berasal dari investor domestik AS, menunjukkan fokus pasar domestik terhadap profil kredit Nvidia selama transisi menuju ekspansi AI.
Aparat pasar mencatat kejutan karena Nvidia jarang beraksi di pasar obligasi berperingkat investasi setelah lima tahun tidak mengaksesnya. Pada Juni 2021, perusahaan terakhir kali menerbitkan obligasi senilai US$5 miliar. Juru bicara Nvidia menegaskan dana hasil penerbitan akan dipakai untuk keperluan umum perusahaan, termasuk pelunasan dan refinancing surat utang yang masih beredar. Goldman Sachs, JPMorgan, dan Morgan Stanley bertindak sebagai bookrunner dalam transaksi ini.
Juru bicara Nvidia menyatakan dana hasil penerbitan akan digunakan untuk keperluan umum perusahaan, termasuk pelunasan dan refinancing surat utang yang masih beredar. Langkah ini juga didorong oleh kebutuhan menjaga profil biaya pinjaman agar tetap kompetitif di pasar utang global, tanpa mengalihkan fokus ke belanja modal besar.
Beberapa sumber menyebut tujuan utama aksi ini adalah membangun spread kredit yang likuid dan menjadi tolok ukur biaya pinjaman bagi investor, bukan membiayai ekspansi kapasitas data center secara langsung. Dengan demikian, pendanaan ini bertujuan menciptakan benchmark yang mencerminkan likuiditas pasar, sambil memberi fleksibilitas finansial untuk strategi jangka panjang Nvidia.
Langkah ini juga menunjukkan kehati-hatian di tengah dinamika AI yang sedang tumbuh pesat, di mana beberapa raksasa teknologi memanfaatkan pasar utang untuk menjaga biaya modal tetap terkendali. Meskipun tidak ada pusat data berskala besar seperti hyperscalers, Nvidia menilai peluang dari peningkatan permintaan chip AI untuk pelatihan dan infrastruktur model-model canggih.
Belanja global untuk pengembangan AI diperkirakan melampaui US$700 miliar sepanjang 2026, menunjukkan dorongan besar bagi pemasok chip dan layanan terkait. Angka ini mencerminkan tren investasi yang menguat di sektor AI dan memicu dinamika harga hingga pada tingkat korporasi seperti Nvidia.
Nvidia tetap menikmati lonjakan permintaan berkat dominasi chip AI yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model canggih, meski tidak menirukan pola hyperscaler besar dalam hal infrastruktur pusat data. Perusahaan fokus pada inovasi prosesor dan peningkatan efisiensi untuk menjaga keunggulan kompetitif di pasar yang berkembang cepat.
Per kuartal yang berakhir pada April 2026, kas dan setara kas Nvidia mencapai US$13,24 miliar, dan sahamnya ditutup lebih tinggi sekitar 3,3% pada perdagangan 15 Juni 2026. Pelaku pasar menilai langkah pendanaan ini memberi sinyal keberlanjutan ekspansi AI Nvidia sambil menjaga kestabilan biaya modal, meski dengan risiko pasar yang tetap ada.