Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat, sehingga sentimen investor cenderung lebih berhati-hati. Berbagai peristiwa geopolitik menambah ketidakpastian pasar global dan memperlambat pergerakan aset. Meski ada upaya menahan eskalasi, tidak ada jalur deeskalasi yang jelas pada saat ini, meningkatkan ketidakpastian bagi investor.
Harga minyak dipengaruhi dinamika pasokan dan kekhawatiran mengenai ketersediaan di jalur pelayaran utama. Penutupan sementara Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memperkuat kekhawatiran terhadap biaya energi dan inflasi. Dalam konteks itu, dolar AS tetap menjadi aset safe-haven utama bagi investor dan cenderung menguat ketika risiko global meningkat.
Imbal hasil US 10-tahun berada di sekitar 4.45%, mendukung daya tarik dolar AS terhadap mata uang berisiko. Data AS menunjukkan gambaran campuran: indeks sentimen konsumen University of Michigan turun menjadi 53.3 pada Maret, sementara ekspektasi inflasi satu tahun naik menjadi 3.8%. Para pejabat Fed tetap berhati-hati dan menilai dampak gejolak energi pada inflasi serta bagaimana hal itu bisa memengaruhi keputusan kebijakan di masa mendatang.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| US 10-tahunan yield | ~4.45% |
| Michigan Sentiment | 53.3 (Mar) |
NZD/USD melemah ke sekitar 0.5750 pada hari Jumat, menandai penurunan empat hari berturut-turut. Pergerakan itu mencerminkan tekanan jual yang lebih besar dibandingkan minat terhadap aset berisiko, sejalan dengan aliran modal menuju dolar AS.
Kondisi domestik Selandia Baru juga melemah, dengan kepercayaan konsumen ANZ-Roy Morgan turun menjadi 91.3 di Maret dari 100.1 di Februari, mengurangi optimisme terhadap prospek ekonomi. Dalam konteks ini, RBNZ dihadapkan pada dilema antara menilai dampak inflasi yang bersifat sementara terkait harga energi dan menjaga ekspektasi inflasi agar tidak melampaui target. Gubernur Anna Breman menegaskan bank sentral bisa melihat melewati inflasi yang temporer, tetapi siap menaik suku bunga jika tekanan berlanjut.
Inti analisis menunjukkan kombinasi dolar AS yang kuat, imbal hasil obligasi yang lebih tinggi, dan persepsi risiko yang memburuk menekan Kiwi. Pasar menilai kemungkinan kebijakan lebih awal dari RBNZ jika tekanan inflasi tidak mereda. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight, dan NZDUSD berisiko melanjutkan tekanan turun jika faktor global tetap dominan.