OCBC: Penutupan Selat Hormuz Dorong Brent Mendekati USD80/BBL pada 2H26

trading sekarang

OCBC mengemukakan bahwa Brent sempat melonjak di atas USD126 per barel akibat penutupan Selat Hormuz dan penarikan inventori, yang memperketat pasokan. Meski demikian, optimisme mengenai kemungkinan kesepakatan antara AS dan Iran baru-baru ini menekan harga kembali turun. Pasar fisik minyak tetap rapat meski ada gencatan api yang berkepanjangan dan sebagian aliran pipa dialihkan. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.

Penutupan Hormuz menambah keketatan prospek minyak secara nyata. Penarikan stok strategis dan komersial mendukung harga meskipun dinamika geopolitik berfluktuasi. Ketatnya pasokan membuat pergerakan harga lebih sensitif terhadap berita permintaan dan risiko kebijakan regional.

Jika Selat Hormuz tetap tertutup berbulan-bulan, pasar kemungkinan perlu memasang harga minyak yang lebih tinggi secara material untuk mendorong perlindungan permintaan. Pemulihan pasokan pasca pembukaan diperkirakan tidak merata karena infrastruktur yang rusak dan gangguan logistik. Menurut proyeksi terbaru, Brent diperkirakan berakhir tahun ini di sekitar USD80 per barel, naik dari USD70 sebelumnya.

Meski risiko geopolitik tetap tinggi, drawdown inventori mengalami penarikan yang mendukung posisi Brent. Penurunan stok di berbagai wilayah produksi meningkatkan dinamika pasar dan menahan penurunan harga. Kondisi ini mempertahankan volatilitas harga yang tinggi meski ada sinyal diplomasi.

Pemulihan pasokan setelah pembukaan diperkirakan tidak berjalan mulus karena infrastruktur yang rusak serta tantangan logistik. Akibatnya, laju pemulihan harga bisa lebih lambat daripada ekspektasi awal. Gangguan ini juga menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar mengenai tempo normalisasi pasokan.

OCBC memperkirakan Brent akan menutup tahun sekitar USD80 per barel, lebih tinggi dari USD70 per barel sebelumnya. Proyeksi ini menempatkan minyak pada kerangka risiko upside yang didorong oleh kebutuhan disiplin permintaan. Pasar juga tetap memantau dinamika geopolitik yang dapat memicu volatilitas signifikan di sisa tahun ini.

banner footer