Estimasi menunjukkan PDB AS untuk kuartal keempat kemungkinan tumbuh sekitar 3% secara tahunan, melambat dibandingkan 4,4% pada kuartal sebelumnya. Penurunan ini sebagian dipicu oleh dampak dari penutupan pemerintah yang diperpanjang, yang menekan aktivitas ekonomi di periode tersebut. Meski begitu, beberapa analis menilai bahwa fondasi ekonomi secara umum tetap kuat meskipun efek penutupan terindikasi sebagai faktor sementara.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga dan dinamika tenaga kerja menjadi faktor utama yang mempengaruhi laju pertumbuhan. Di tengah ketidakpastian, belanja konsumen tetap menjadi kontributor utama, meski tanda-tanda perlambatan mulai terlihat pada segmen belanja besar. BEA akan merilis estimasi awal PDB Q4 pada waktu yang telah ditentukan.
Serangkaian data lain, seperti indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang juga dirilis pada hari yang sama, berpotensi menambah arah pergerakan dolar. Inflasi yang lebih tinggi dari estimasi bisa menekan sentiment investor terhadap pertumbuhan, sementara angka yang sejalan dengan harapan bisa mendukung stabilitas kebijakan moneter dan volatilitas pasar yang lebih rendah.
Dalam laporan pekerjaan, Nonfarm Payrolls menunjukkan peningkatan pekerjaan yang relatif kuat pada Januari, meski terdapat penyesuaian dalam komposisi sektor. Secara keseluruhan, pasar tenaga kerja tetap menjadi fokus utama karena dinamika pekerjaan menyiratkan peluang dan risiko di masa mendatang, dengan ketidakpastian atas biaya hidup yang meningkat akibat inflasi dan kebijakan perdagangan.
Data pekerjaan untuk 2025 direvisi turun menjadi sekitar 181 ribu pekerjaan, berbeda dari estimasi sebelumnya yang lebih optimis. Sementara itu, pertumbuhan pekerjaan pada 2024 mencapai sekitar 1,46 juta, menambah dinamika antara ekspansi dan perlambatan di kancah pasar kerja. Revisi ini tetap menyoroti perlunya ketaatan pada tren fundamental jangka menengah.
Belanja konsumsi, yang menyumbang sekitar 70% dari GDP, memperlihatkan tanda-tanda melambat. Penjualan ritel terhenti pada Desember, dan revisi data Oktober ke arah bawah memperkuat gambaran tekanan pada konsumen. Di sisi inflasi, PCE Price Index diperkirakan masih menunjukkan tingkat kepekaan inflasi yang tinggi terhadap biaya hidup, meski beberapa indikator mungkin mendorong pelonggaran kebijakan di masa mendatang.
Inflasi yang tetap lebih tinggi dan pertumbuhan yang melambat meningkatkan risiko kebijakan moneter masuk ke arah yang berbeda, sehingga para pelaku pasar menakar kemungkinan langkah Fed di masa depan. Kombinasi ini berpotensi menimbulkan volatilitas dolar jika data rilis menunjukkan konvergensi arah kebijakan dan data pertumbuhan yang lemah.
Beberapa ahli mengatakan bahwa pembentukan nilai rendah di indeks dolar berpotensi menjadi tanda pembalikan jika tekanan bullish mampu menembus level kunci tertentu. Meski demikian, momentum kenaikan dolar tetap rawan berubah arah karena dinamika data domestik dan ekspektasi kebijakan Fed di 2026.
Secara umum, investor akan menunggu rilis data GDP dan PCE untuk menilai arah jangka pendek dolar. Kuncinya adalah apakah kedua data tersebut mengarah pada arah kebijakan moneter yang konsisten, karena hal itu berpotensi memicu pergerakan volatilitas yang signifikan di pasar mata uang dan aset berhubungan.