
Sentimen risiko global tetap mantap meski ada eskalasi baru antara AS dan Iran. Pasar menunjukkan volatilitas terbatas, karena faktor fundamental masih mendominasi pergerakan harga. Brent cenderung mengalami beberapa koreksi, sementara DXY mengkonsolidasikan diri di bawah rata-rata pergerakan 200 hari.
Menurut analis BBH, Elias Haddad, neraca energi AS berada pada posisi positif. Namun perbedaan suku bunga antar negara maju dapat menjaga DXY pada kisaran tertentu, antara 96,00 dan 100,00. Investor juga akan menunggu rilis data JOLTS dan ISM Services untuk menggambarkan arah kebijakan moneter ke depan.
Ketika situasi geopolitik masih abu-abu, tekanan pada harga energi cenderung tetap terdukung. Brent menunjukkan dinamika yang membatasi kenaikan besar, dan ekuitas global secara umum cenderung naik. Saat ini DXY berada sekitar 98,57, tepat di bawah rata-rata 200 hari, yang memberi indikasi bahwa mata uang utama masih mencari arah.
Brent Crude berhasil memangkas sebagian keuntungan kemarin, menandai bagaimana pasar menilai keseimbangan pasokan dan permintaan di tengah volatilitas geopolitik. Pergerakan harga minyak tetap dipengarhi oleh dinamika energi global dan potensi gangguan logistik di wilayah berisiko. Para trader juga memperhatikan bagaimana berita regional dapat mengubah sikap investor terhadap komoditas energi.
Keterkaitan antara neraca energi AS dan harga minyak menonjol: meskipun AS menikmati surplus energi, perubahan kebijakan dan arus perdagangan dunia bisa menambah tekanan ke atas atau ke bawah pada Brent. Pelaku pasar menilai faktor fundamental tetap kuat meski risiko geopolitik berfluktuasi. Sentimen investor juga dipengaruhi oleh gejolak regional yang bisa mengubah aliran minyak dari wilayah berisiko.
Untuk trader, fokus utama adalah bagaimana harga minyak bereaksi terhadap berita energi dan data ekonomi makin ritel maupun industri. Sinyal sentimen pasar menunjukkan bahwa harga minyak kemungkinan bertahan lebih tinggi jika ketegangan geopolitik berlanjut. Namun bila negosiasi membuahkan kemajuan, minyak bisa dikonsolidasikan kembali dan faktor ekonomi global akan menentukan laju pergerakan jangka pendek.
Mata uang AS dan data tenaga kerja menjadi penentu arah pasar berikutnya. Pasar menantikan rilis data JOLTS untuk Maret yang diharapkan tetap menunjukkan dinamika kerja yang ketat meski laju perekrutan melambat. Laju pembukaan pekerjaan dan perekrutan diperkirakan turun, sedangkan tingkat PHK tetap rendah.
ISM Services untuk April diperkirakan tetap menunjukkan ekspansi, dengan indeks utama sekitar 53,7 dibanding 54,0 pada Maret. Sub-indeks harga diperkirakan mencapai sekitar 73,5, tertinggi sejak Juli 2022, naik dari 70,7 pada Maret. Data ini bisa mendukung ekspektasi pasar terhadap jalur kebijakan The Fed.
Secara umum, pergerakan DXY di kisaran 96–100 dan perbedaan suku bunga antar negara besar akan mempengaruhi harga minyak, obligasi, dan saham global. Investor mungkin menilai bahwa jalur kebijakan moneter akan tetap hati-hati dan tergantung pada perkembangan data ekonomi. Dengan demikian, risiko geopolitik dan data ekonomi utama menjadi kunci arahan pasar dalam beberapa minggu ke depan.