Bank Indonesia dan pelaku industri pembayaran melaporkan bahwa penggunaan QRIS meningkat secara signifikan sepanjang tahun terakhir. Data terbaru menunjukkan transaksi QRIS melonjak hingga 1399 persen, menandai tren pergeseran preferensi pembayaran dari tunai ke digital.
Faktor utama di balik lonjakan ini meliputi kemudahan scanning, integrasi dengan dompet digital, dan dukungan kebijakan yang mendorong UMKM untuk beralih ke pembayaran nirsentuh. Penyesuaian infrastruktur juga mempercepat konversi transaksi dari fisik ke digital.
Pertumbuhan ini tidak hanya meningkatkan volume transaksi, tetapi juga memperluas inklusi finansial, mempercepat arus kas pedagang, dan mendorong adopsi layanan keuangan digital secara luas.
| Periode | Pertumbuhan Transaksi | Keterangan |
|---|---|---|
| Tahunan | 1399 persen | Lonjakan tertinggi sejak peluncuran QRIS |
Para pedagang kecil hingga besar merasakan kemudahan proses pembayaran, mengurangi biaya tunai, dan mempercepat pembayaran masuk. QRIS menjadi jembatan antara berbagai aplikasi pembayaran dan platform e-commerce, memberi pedagang opsi yang lebih fleksibel.
Konsumen mendapatkan opsi pembayaran yang lebih beragam, termasuk QRIS melalui aplikasi perbankan dan dompet digital. Perilaku belanja cenderung lebih praktis, yang pada akhirnya meningkatkan frekuensi transaksi digital dan pengeluaran digital di berbagai segmen.
Infrastruktur pembayaran juga semakin terintegrasi dengan mesin EDC, aplikasi toko, dan marketplace, menghasilkan ekosistem pembayaran yang lebih kohesif. Kolaborasi antara bank, fintech, dan platform ritel memperkuat ekosistem dan mendorong adopsi secara luas.
Bagi investor, sinyal positif dari adopsi QRIS membuka peluang pada saham fintech lokal, penyedia solusi pembayaran, serta indeks terkait ekonomi digital. Pertumbuhan transaksi menandakan potensi peningkatan layanan value-added dan efisiensi biaya bagi pedagang.
Namun, risiko meliputi persaingan sengit dan regulasi yang berubah-ubah; investor perlu memantau margin keuntungan pedagang dan biaya transaksi terkait keamanan data serta kepatuhan. Evaluasi model monetisasi penyedia solusi pembayaran menjadi kunci dalam menilai potensi laba.
Prospek jangka menengah dapat tetap positif jika kebijakan pro-digital economy berlanjut, dengan fokus pada keamanan data, biaya rendah, dan dukungan UMKM. Pelaku pasar perlu memperhatikan inovasi teknologi, antarmuka pengguna yang ramah, serta transparansi biaya transaksi.