
Data inflasi AS yang lebih tinggi mendorong dolar menguat, memberikan tekanan tambahan pada logam mulia berharga seperti perak. Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan CPI April sebesar 3.8% YoY, lebih tinggi dari ekspektasi 3.7%, dan lonjakan inti inflasi ke 2.8% YoY menambah kekhawatiran atas lama bertahannya tekanan harga. Dengan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi, investor menilai bahwa Federal Reserve bisa mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk periode yang lebih lama.
Pergerakan DXY yang menguat menambah tekanan pada XAGUSD, karena logam ini cenderung kehilangan daya saing saat aset berpendapatan dan dolar menguat. Perak sebagai komoditas non-yielding akan lebih sulit menarik minat ketika aset berpendapatan dan dolar menawarkannya perlindungan yang lebih jelas. Data ADP menunjukkan penambahan pekerjaan swasta sekitar 33 ribu per minggu dalam empat pekan hingga 25 April, menambah gambaran momentum tenaga kerja yang membaik.
Meski demikian, faktor-faktor pendukung tetap ada. Commerzbank menyoroti dukungan dari permintaan industri dan risiko volatilitas yang tinggi di pasar perak, sementara geopolitik di wilayah Timur Tengah menambah risiko bagi investasi logam mulia. OCBC juga menekankan bahwa reli terbaru dipicu oleh momentum teknikal, short-covering, dan ekspektasi kelonggaran ketegangan dagang AS–China, ditambah defisit pasokan yang tetap signifikan.
Laporan Silver Institute memperkirakan defisit pasokan perak untuk keenam kalinya secara berturut-turut, menunjukkan bahwa permintaan industri tetap kuat meski volatilitas pasar. Defisit ini memperkuat narasi kelangkaan logam dan mengangkat risiko pergerakan harga yang lebih tajam di masa depan. Dukungan industri terus menjadi pendorong utama harga meskipun laporan inflasi berdampak pada sentimen risiko.
Di sisi lain, harga logam menanjak pada beberapa sesi karena faktor teknikal dan kekhawatiran gangguan produksi di Peru terkait krisis energi. Lonjakan di indeks London Metal Exchange dan faktor volatilitas membuat pedagang memperhatikan arah harga dengan cermat. Meski demikian, pasar tetap waspada terhadap risiko geopolitik yang berseliweran di pasar global, sehingga volatilitas tidak menurun secara drastis.
OCBC menyatakan reli perak didorong momentum, short-covering, dan prospek meredanya tensi perdagangan AS–China, meskipun defisit pasokan berlanjut. Silang pandang antara permintaan industri yang kuat dan risiko pasokan membentuk dinamika harga jangka menengah yang perlu dipantau terus oleh pelaku pasar.
Untuk jangka pendek, XAGUSD tetap sensitif terhadap pergerakan dolar dan gejolak geopolitik. Dolar yang tetap kuat mengurangi daya tarik perak sebagai aset tanpa hasil, sehingga bias penurunan tetap relevan jika data inflasi tidak melunak. Pedagang perlu memperhatikan perkembangan kebijakan moneter AS serta respons pasar terhadap rilis data inflasi berikutnya.
Secara teknikal, level pembukaan sekitar 84.10 menjadi acuan utama dalam rencana perdagangan kami. Rencana short dengan SL di 85.00 dan TP di 82.50 memberikan risiko terbatas dengan rasio reward-to-risk sekitar 1:1.78, sesuai prinsip manajemen risiko. Namun konfirmasi tambahan diperlukan sebelum mengambil posisi besar, mengingat volatilitas yang masih tinggi.
Sebagai penutup, pembaca disarankan fokus pada manajemen risiko, tetap patuhi level kunci, dan mengikuti konteks makro secara berkala. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya mencari konfirmasi dari data ekonomi terbaru sebelum menambah posisi pada XAGUSD, mengutamakan pendekatan yang terukur dan disiplin dalam trading logam mulia.
| Aspek | Nilai |
|---|---|
| Harga pembukaan | 84.10 |
| SL | 85.00 |
| TP | 82.50 |
| Pair | XAGUSD |