Pop Mart: Laba Meningkat 308% Didukung Ekspansi Global Meski Pasar Tetap Waspada

Pop Mart: Laba Meningkat 308% Didukung Ekspansi Global Meski Pasar Tetap Waspada

trading sekarang

Pop Mart International Group mencatat lonjakan pendapatan 2025 yang mengejutkan, melonjak 185% year-on-year menjadi 37,12 miliar yuan. Angka ini meneguhkan dorongan kuat perusahaan di segmen mainan koleksi berbasis IP, meski pasar menilai pencapaian itu belum cukup untuk memenuhi ekspektasi. Memanfaatkan tren global terhadap karakter seperti Labubu, perusahaan menunjukkan dinamika pertumbuhan yang impresif.

Laba bersih yang attributable to owners mencapai 12,78 miliar yuan, naik 308% dari 2024; rasio pembayaran dividen turun dari 35% ke 25% pada 2025. Perubahan kebijakan dividen ini menambah risiko bagi investor jangka pendek, meskipun manajemen menegaskan fokus pada profitabilitas. Para analis, termasuk Morningstar Jeff Zhang, menilai capaian tersebut masih di bawah ekspektasi karena perlambatan kinerja pada kuartal keempat.

Wang Ning, Chairman dan CEO, optimistis target pertumbuhan pendapatan minimal 20% pada 2026. Ia menegaskan perusahaan tidak akan mengejar volume yang mengorbankan margin. Dalam analisis pasar, Cetro Trading Insight menganggap fokus pada lisensi IP dan ekspansi internasional sebagai pilar utama meski risiko eksekusi tetap tinggi.

Pop Mart memperluas kapasitas produksi ke negara-negara seperti Meksiko, Kamboja, dan Indonesia pada 2025-2026, guna memperkuat rantai pasok global. Langkah ini diharapkan mengefisiensikan biaya dan mempercepat waktu ke pasar, tetapi juga menambah kompleksitas operasional lintas negara. Investor perlu memantau potensi kendala logistik dan volatilitas biaya valuta asing.

Perusahaan juga merencanakan London sebagai kantor pusat Eropa, menandai arah ekspansi ke pasar Barat. Strategi ini bertujuan memperdalam penetrasi pasar konsumen kelas atas dan memperluas portofolio lisensi IP. Keterlibatan Sony Pictures untuk mengembangkan film berbasis Labubu menambah dimensi monetisasi IP secara signifikan.

Meskipun ekspansi terlihat ambisius, analisis Morningstar dan pihak ahli mencatat risiko eksekusi yang tinggi. Kebijakan dividen yang lebih rendah juga mencerminkan prioritas reinvestasi untuk memperkuat infrastruktur IP dan kapasitas produksi. Dengan target pertumbuhan pendapatan 2026 minimal 20%, peluang reward tetap ada jika eksekusi ekspansi berjalan sesuai rencana.

broker terbaik indonesia