
PPRE Divestasi LMA: Perbaiki Struktur Modal dan Likuiditas
Pasar mencermati langkah PP Presisi Tbk menata ulang struktur modal lewat divestasi anak usahanya. Langkah ini dinilai bisa menjadi turning point bagi likuiditas perusahaan meski utang tetap menjadi dinamika utama yang perlu diatasi. Cetro Trading Insight melihat langkah ini sebagai sinyal perubahan strategi untuk menjaga kelangsungan usaha dan menjaga kepercayaan pemangku kepentingan.
PPRE berencana menjual 331.500 saham, atau sekitar 51 persen, LMA kepada pemegang saham PT Lancarjaya Investama Abadi yaitu LIA. Transaksi ini bernilai Rp1,61 triliun dan menjadikan LIA sebagai pemegang saham tunggal LMA karena saat ini menggenggam 41 persen saham LMA. Perubahan kepemilikan ini dirancang untuk menata ulang struktur kepemilikan dan arus kas perseroan.
Transaksi ini dinilai material karena berdasarkan laporan keuangan 2025 ekuitas PPRE tercatat sekitar Rp2,13 triliun. Nilai transaksi setara dengan sekitar 75,79 persen dari ekuitas perusahaan, menunjukkan skala dampak finansial yang signifikan terhadap neraca. Pihak manajemen menilai langkah ini sebagai bagian dari upaya mengurangi beban keuangan akibat pembayaran utang.
Hingga laporan 2025, manajemen menyatakan bahwa hasil divestasi ini bertujuan mengurangi tekanan arus kas dan beban keuangan terkait utang. Mereka menegaskan bahwa langkah ini diperlukan untuk menjaga kelangsungan usaha perseroan dan menyiapkan landasan bagi likuiditas yang lebih sehat ke depan. Rencana RUPS untuk persetujuan divestasi dijadwalkan pada 24 Juni 2026.
Secara leverage, PT PP Presisi Tbk mencatat Debt to Equity Ratio DER sebesar 2,18 kali dengan Debt Service Ratio 0,30 kali dan Debt (Interest Bearing) to Equity Ratio 0,86 kali. Current Ratio berada di 1,15 kali, menunjukkan likuiditas relatif tipis namun cukup untuk membiayai kebutuhan jangka pendek. Struktur liabilitas mencakup liabilitas jangka pendek Rp4,09 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp553 miliar, sementara aset tercatat Rp6,78 triliun.
Untuk LMA, kinerja sepanjang tahun lalu menunjukkan pendapatan Rp2,03 triliun, laba kotor Rp449 miliar, dan laba bersih Rp225,76 miliar. Aset LMA sebesar Rp3,68 triliun dengan liabilitas Rp1,51 triliun dan ekuitas Rp2,17 triliun. Data ini memberi gambaran bahwa LMA dalam kondisi relatif sehat secara operasional meski berada dalam konteks grup yang perlu restrukturisasi keuangan.
Setelah divestasi LME, total aset dan ekuitas PPRE diperkirakan menyusut sekitar Rp1,20 triliun. Meski demikian, langkah ini dipandang bisa mempercepat pelunasan pokok pinjaman bank dan menurunkan beban bunga, sehingga laba bersih jangka menengah bisa meningkat sejalan dengan efisiensi biaya.
Divestasi diharapkan mengurangi tekanan arus kas untuk cash deficiency support CDS dan membantu membayar kewajiban jatuh tempo yang meliputi utang bank, angsuran leasing, serta kewajiban lainnya. Dengan demikian, likuiditas perseroan diharapkan lebih terukur dan arus kas operasional bisa lebih stabil ke depan.
Manajemen menyatakan keyakinan bahwa transaksi ini diperlukan dan terukur untuk menjaga going concern perseroan. RUPS yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026 diharapkan memberi restu bagi rencana pelepasan anak usaha sehingga langkah restrukturisasi dapat berjalan.
Bagi pemegang saham, keputusan ini membawa potensi perubahan nilai perusahaan seiring perbaikan struktur finansial, namun juga meninggalkan dinamika risiko terkait konsentrasi kepemilikan dan perubahan profil aset. Investor perlu memantau kelanjutan negosiasi, jadwal pelaksanaan, serta dampak jangka menengah terhadap laba dan arus kas PT PP Presisi Tbk.