
Menurut International Aluminium Institute, produksi aluminium primer global turun 2,9 persen secara bulanan dan 1,5 persen secara tahunan menjadi 5,98 juta ton pada Juni. Penurunan ini mencerminkan dinamika pasokan yang lebih lemah meski laju produksi paruh pertama relatif stabil di sekitar 36,4 juta ton. Data ini menyoroti perubahan struktur pasokan logam ringan yang berdampak pada harga dan aktivitas industri.
China mencatat penurunan produksi bulanan sebesar 3,2 persen menjadi 3,7 juta ton pada Juni, meskipun output kumulatif tahun berjalan tetap 2,2 persen lebih tinggi dibanding periode serupa tahun lalu, mencapai 22,3 juta ton. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan China tetap kuat secara year-to-date meski ada penyesuaian bulanan. Sementara itu wilayah lain menunjukkan pelemahan produksi yang menambah intensitas ketatnya pasokan global.
Secara regional, penurunan produksi terlihat di banyak pasar utama. Eropa termasuk Rusia turun 1,7 persen secara bulanan, sedangkan Asia ex-China turun 2,9 persen. Gulf juga terdampak, dengan produksi turun menjadi 332 kt, turun 34,5 persen YoY, mencerminkan dampak gangguan terkait konflik Iran.
Penurunan produksi di Eropa termasuk Rusia sebesar 1,7 persen MoM serta penurunan 2,9 persen di Asia ex-China menandai pengetatan pasokan di beberapa pasar utama. Perubahan tersebut menambah tekanan terhadap harga logam, meski permintaan industri tetap menjadi faktor kunci. Dinamika regional ini juga meningkatkan volatilitas pasar komoditas secara keseluruhan.
Gangguan pasokan di Gulf dan ketidakpastian regional meningkatkan biaya logistik dan waktu pengiriman. Ada potensi pergeseran kapasitas produksi ke wilayah dengan biaya lebih rendah, meski transisi ini memerlukan investasi jangka menengah. Secara keseluruhan, dinamika regional memperkuat pandangan bahwa pasar aluminium menghadapi tantangan pasokan yang lebih luas.
Arah data Juni menunjukkan bahwa pasokan global sedang menyesuaikan diri, dan para pelaku industri perlu memantau laporan IAI secara berkala untuk menilai perubahan pasar. Cetro Trading Insight menilai pentingnya diversifikasi rantai pasok dan mitigasi risiko operasional bagi produsen serta pengguna logam.
Dinamika suplay global yang melemah berpotensi mempengaruhi harga aluminium dalam jangka pendek hingga menengah jika permintaan tetap stabil. Penurunan di beberapa wilayah mencerminkan risiko pasokan yang lebih ketat, sementara biaya produksi dan logistik juga bisa meningkat. Pasar tetap fokus pada faktor geopolitik yang berisiko mengganggu aliran logam.
Para investor mungkin melihat peluang jangka panjang dengan memperluas kapasitas pasokan atau mencari sumber alternatif. Namun risiko terkait konflik regional, terutama di Gulf dan Iran, menambah volatilitas harga bagi pembeli industri. Laporan ini menekankan perlunya strategi manajemen risiko yang kuat bagi para pelaku pasar logam.
Kami menegaskan bahwa gambaran pasokan aluminium global tetap tidak menentu, dengan tekanan dari wilayah utama dan faktor geopolitik yang relevan. Sambil pasar menilai arah harga, update IAI tetap menjadi sumber penting bagi pengambilan keputusan. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembuat keputusan memahami lanskap rantai pasok logam.