Proyeksi Ekspor Asia Dukung Mata Uang Regional pada 1H2026

trading sekarang

MUFG Senior Currency Analyst Michael Wan menyatakan bahwa ekspor Asia yang lebih kuat pada awal 2026 menjadi dukungan utama bagi mata uang regional. Ia menyoroti data ekspor Thailand yang tumbuh 25% YoY dan Korea Selatan yang melonjak 47% YoY untuk 20 hari pertama Februari dengan basis kerja yang disesuaikan. Peningkatan ekspor ini diperkirakan berlanjut di 1H2026, memberi dukungan pada mata uang yang berorientasi ekspor.

Indikator utama, termasuk harga logam industri dan permintaan untuk AI serta elektronik, menunjukkan bahwa rebound ekspor Asia bisa mempercepat di 1H2026. Analisis ini selaras dengan ekspektasi bahwa aktivitas manufaktur di wilayah ini tetap kuat meski ada tantangan perdagangan. Ekspor menjadi pendorong utama yang mengimbangi ketidakpastian kebijakan perdagangan global.

Menurut laporan, mata uang seperti KRW, MYR, dan secara terbatas CNY tampak lebih menarik dibanding INR dan IDR. Ini mencerminkan perubahan aliran modal menuju negara eksportir, di mana permintaan global menjadi faktor penentu. Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membahas implikasinya bagi investor mata uang.

Analisis MUFG juga menyoroti dinamika kebijakan perdagangan AS yang sedang berlangsung. Rencana pemerintahan Trump untuk menggunakan Section 232 guna menyelidiki produk seperti baterai, besi tuang, peralatan grid, telekomunikasi, plastik, dan kimia industri menambah unsur ketidakpastian. Langkah ini menambah risiko bagi negara Asia yang sangat bergantung pada ekspor ke pasar Amerika.

Selain itu, Section 301 diterapkan untuk menanggapi tindakan diskriminatif oleh mitra dagang. Analis berpendapat bahwa otoritas perdagangan masih menjalankan proses yang lebih rumit dibandingkan masa lalu. Meski begitu, tren utamanya adalah upaya mempertahankan rezim tarif lama sejauh mungkin sambil menyesuaikan praktik perdagangan dengan kerangka hukum.

Secara keseluruhan, meski kebijakan tarif menambah ketidakpastian, dinamika ekspor Asia tetap menjadi faktor penentu. Kombinasi permintaan global yang stabil di sektor AI dan elektronik diharapkan mendukung mata uang regional. Fokus pada ekspor sebagai pendorong utama perlu dilihat dalam konteks kebijakan perdagangan yang sedang berjalan.

Analisis Implikasi untuk Mata Uang Asia dan Strategi Investor

Dari sisi praktis, investor perlu mencermati bahwa KRW, MYR, dan CNY cenderung mendapatkan dukungan lebih kuat dibanding INR dan IDR pada periode 1H2026. Pergerakan ekspor yang lebih kuat diharapkan memperbaiki neraca pembayaran negara-negara ini. Hal ini bisa tercermin pada likuiditas dan biaya pembiayaan mata uang regional.

Namun risiko kebijakan perdagangan AS dan volatilitas pasar global tetap perlu diperhitungkan. Investor disarankan untuk fokus pada volatilitas yang terkait dengan berita kebijakan serta arus modal jangka pendek. Strategi diversifikasi tetap relevan untuk menghadapi ketidakpastian eksternal.

Keterangan tambahan: laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memberikan gambaran makro yang disertai analisis praktis bagi pelaku pasar mata uang. Tujuan utama adalah membantu pembaca memahami bagaimana faktor ekspor dan kebijakan perdagangan mempengaruhi mata uang regional dalam jangka menengah.

broker terbaik indonesia