Analisis Rabobank menyoroti bahwa pasca-GFC aliran portofolio cenderung menguntungkan aset AS. Namun, sejak tahun lalu, gejolak geopolitik, kekhawatiran tarif, dan ancaman fiskal AS telah meredupkan narasi buy America. Akibatnya, investor mulai melakukan rebalancing yang menekankan kualitas fiskal global dan upaya diversifikasi aset.
Saat ini, CHF dan SEK menunjukkan kekuatan lebih tinggi dibanding USD dan JPY. Hal ini mencerminkan fokus baru pada kekuatan fiskal Swiss dan negara Nordik, yang dinilai lebih tahan terhadap siklus global. Pergerakan ini menyoroti perbedaan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter antara zona euro, Swis, dan Jepang.
Rasio hedging USD yang meningkat, terutama di kalangan investor Jepang dan investor asing lainnya, menambah tekanan pada dolar. Biaya perlindungan nilai tukar yang lebih tinggi mempengaruhi investor dan perusahaan yang memiliki eksposur USD. Kondisi ini memperlihatkan dinamika pasar yang sedang menilai risiko fiskal dan geopolitik secara lebih tetap.
Sejak awal tahun lalu, kekhawatiran geopolitik, sengketa perdagangan antara AS dan sekutu, dan kekhawatiran atas ukuran defisit fiskal AS berperan dalam melemahkan dorongan buy America. Hal ini menandai sinyal bahwa pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap kemampuan AS untuk menjaga pola pertumbuhan tanpa risiko fiskal yang melebar.
Meskipun diversifikasi moderat masih bisa menjaga USD tetap didukung terhadap beberapa pasangan, lonjakan rasio hedging telah menambah tekanan turun pada dolar secara keseluruhan. Investor mulai menimbang biaya hedging sebagai bagian dari total biaya kepemilikan aset berbasis USD dalam jangka menengah.
Meski tidak ada bukti arus keluar besar dari Treasuries AS, penurunan USD pada musim semi lalu kemungkinan sebagian dipicu oleh manajer aset yang membangun kembali hedges USD terhadap aset yang telah mereka miliki. Fenomena ini mencerminkan rebalancing risiko yang lebih terstruktur di pasar global.
Fenomena ini menekankan pentingnya memahami dinamika biaya hedging dan bagaimana ia memengaruhi keputusan investasi berbasis USD. Investor perlu menilai kapan hedging menjadi beban biaya, bukan alat perlindungan, karena tekanan biaya bisa mengubah potensi laba pada pos FX. Hal ini juga dapat mempengaruhi pilihan pasangan mata uang dan alokasi aset.
Dengan munculnya tekanan pada biaya perlindungan valuta asing, volatilitas jangka pendek bisa meningkat ketika pasar menilai risiko geopolitik dan perubahan kebijakan fiskal. Pelaku pasar disarankan untuk mengulas ulang struktur risiko portofolio dan horizon investasi dalam konteks eksposur USD.
Seperti dilaporkan oleh Cetro Trading Insight, karena tidak ada konfirmasi teknikal maupun level harga yang jelas untuk pasangan USDJPY dalam artikel ini, sinyal trading dinyatakan no. Ini menegaskan perlunya pendekatan fundamental yang hati-hati dalam menilai risiko mata uang. Investor perlu mengandalkan analisis makroekonomi dan kebijakan fiskal untuk keputusan posisi.