Rabobank mencatat bahwa lonjakan harga Brent terjadi seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah serta penutupan efektif Selat Hormuz. Premis risiko pasokan mendorong premi di pasar energi, membuat pergerakan pada pasar fisik melonjak lebih tajam daripada kontrak berjangka. Para analis menilai perubahan narasi pasar sebagai respons terhadap gejolak geopolitik yang membentuk fondasi harga saat ini.
Premis ini menekankan bahwa aliran minyak global masih sangat rentan terhadap gangguan jangka panjang. Para ekonom memperkirakan arus masih tertahan hingga akhir bulan April dan baru pulih sekitar 80 persen dari level pra-perang pada Agustus. Kondisi ini menambah ketidakpastian dan menambah intensitas volatilitas harga antar segmen pasar.
Selain faktor geopolitik, dinamika likuiditas pasar memperlihatkan bahwa ekspektasi harga disintegrasi berdasarkan risiko pembatasan pasokan. Proyeksi jangka pendek untuk Brent dan WTI mencerminkan asumsi bahwa normalisasi aliran memerlukan waktu lebih lama sementara risiko geopolitik tetap tinggi. Rabobank menegaskan bahwa skenario tersebut membentuk kerangka harga untuk beberapa kuartal mendatang.
Secara rinci, Rabobank memperkirakan Brent akan rata-rata 107 dolar per barel pada kuartal kedua 2026, 96 dolar pada kuartal ketiga, dan 90 dolar pada kuartal keempat. Sementara itu, estimasi WTI berada di 98 dolar, 88 dolar, dan 83 dolar untuk periode yang sama. Untuk 2027, pandangan mereka menunjukkan Brent rata-rata sekitar 83 dolar per barel dan WTI sekitar 77 dolar pada tahun itu. Proyeksi jangka panjang juga mengindikasikan penyesuaian menuju sekitar 71.50 dolar per barel pada 2028 untuk Brent, dengan WTI sekitar 77 dolar pada 2027 dan menurun ke level yang lebih rendah pada 2028.
Di sisi lain, pasar fisik telah melihat dinamika berbeda dibanding harga kontrak, dengan Dubai crude menunjukkan kisaran 150–166 dolar per barel. Kondisi ini menandai premia yang melebar antara harga fisik dan prospek kontrak berjangka, serta menegaskan adanya ketidakpastian atas keseimbangan pasokan. Pergerakan ini mencerminkan respons terhadap risiko gangguan pasokan yang berkepanjangan dan perubahan preferensi pelaku pasar terhadap risiko geopolitik.
Riset Rabobank juga menegaskan potensi serangan terhadap infrastruktur energi di Teluk yang berisiko menyebabkan gangguan pasokan lebih lanjut dan menambah upside risk terhadap harga gas alam serta minyak mentah. Lonjakan risiko itu memperkuat kebutuhan akan manajemen risiko yang lebih cermat di kalangan investor dan pedagang. Kondisi ini menuntut monitoring ketat atas perkembangan geopolitik dan dinamika pasokan global.
Secara umum, artikel ini menekankan bahwa fluktuasi harga akan tetap menjadi bagian dari lanskap energi di masa mendatang. Pelaku pasar disarankan untuk menjaga keseimbangan antara ekspektasi jangka menengah dan respons kebijakan produsen minyak regional. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya analisis fundamental dan pemantauan berkelanjutan terhadap perubahan aliran energi serta risiko geopolitik untuk menilai peluang tanpa menempatkan diri pada satu arah pasar secara kaku.