Rabobank melalui analis senior Philip Marey menilai Federal Open Market Committee (FOMC) akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin sebanyak tiga kali pada 2026. Proyeksi tersebut menyiratkan bahwa pelonggaran akan dimulai pada bulan Juni, bukan Maret seperti sebelumnya. Gambaran ini juga mencerminkan bahwa tekanan inflasi menurun dan data ekonomi menunjukkan dinamika yang mendukung pelonggaran bertahap.
Data tenaga kerja AS yang lebih kuat menambah jarak terhadap pemotongan segera, sehingga urgensi kebijakan akomodatif jangka pendek berkurang. Meski begitu, CPI yang lebih lemah memperkuat argumen untuk pelonggaran di kemudian hari, sehingga jalur 2026 tetap menarik bagi investor yang mengharapkan stabilitas inflasi menuju netralitas kebijakan.
Rabobank menegaskan bahwa tiga potongan 25 bps di 2026 tetap konsisten dengan ekspektasi bahwa Fed akan bertujuan pada level di bawah netral pada akhir siklus ini. Menurut mereka, pilihan kebijakan tetap condong ke pemangkasan bertahap, meski Komite akan menilai update Summary of Economic Projections (SEP) pada beberapa pertemuan sepanjang tahun.
Jika pemangkasan berjalan sesuai skenario, likuiditas di pasar obligasi dan dinamika nilai tukar bisa mengalami penyesuaian, karena ekspektasi suku bunga jangka menengah turun. Sementara itu, data tenaga kerja yang kuat mengurangi kebutuhan untuk pemotongan segera, sementara data CPI yang lebih lemah memberikan dukungan pada narasi pelonggaran lanjutan.
Rabobank menilai bahwa pelonggaran tiga kali 25 bps di 2026 masih masuk akal, meski jalurnya dapat bergeser berdasarkan perubahan data ekonomi dan pernyataan terbaru dari The Fed. Mereka juga menyatakan bahwa Ketua Fed baru kemungkinan mendorong pemotongan lebih banyak daripada rilis sebelumnya, menambah dinamika potensi pergeseran kebijakan.
Menurut Cetro Trading Insight, respons pasar berpotensi menandai volatilitas lebih besar di pasar obligasi dan valuta asing jika laporan SEP dan rilis data utama menggeser ekspektasi investor. Pergerakan nilai tukar dan imbal hasil jangka menengah bisa meningkat saat data ekonomi berubah arah, sehingga manajemen risiko menjadi krusial bagi trader.
Bagi investor ritel dan institusional, skenario pemangkasan bertahap menuntut penyesuaian strategi: gunakan manajemen risiko yang ketat dan sesuaikan eksposur terhadap aset berisiko apabila jalur kebijakan semakin jelas.
Secara khusus, kondisi dolar AS bisa melemah jika ekspektasi pelonggaran meningkat, membuka peluang bagi perdagangan pasangan mata uang utama yang melibatkan USD. Namun, volatilitas bisa meningkat menjelang rilis data ekonomi kunci, sehingga trader perlu fokus pada rencana masuk dan keluar yang sesuai dengan profil risiko.
Kesimpulan untuk pembaca Cetro Trading Insight adalah tetap mengikuti perkembangan kebijakan FOMC, rilis data pekerjaan dan inflasi, serta pernyataan SEP. Meskipun prospek tiga potongan 25 bps di 2026 terlihat, jalurnya bisa berubah—manfaatkan pendekatan trading yang disiplin dan fokus pada manajemen risiko.