Harga minyak dunia mengalami reli yang kuat setelah laporan serangan gabungan AS dan Israel terhadap beberapa depot Iran. Ketegangan geopolitik meningkatkan kekhawatiran pasokan dan memperkuat permintaan spekulatif pada kontrak minyak berjangka WTI.
WTI berada di jalur kenaikan dan sempat menembus sekitar $113.00 pada sesi Eropa awal. Namun, beberapa faktor teknikal dan berita pendukung menyebabkan pergerakan balik menuju level sekitar $106.00 pada saat ini.
Meski situasinya kompleks, pasar tetap fokus pada potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz dan risiko eskalasi yang bisa mendorong inflasi global lebih tinggi, menambah tekanan pada kebijakan moneter di berbagai negara. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Iran mengangkat Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, sebuah perkembangan yang meningkatkan ketidakpastian regional dan bisa mempengaruhi aliran minyak dari wilayah produksi utama. Aspek geopolitik ini berpotensi memperpanjang volatilitas harga energi.
Lonjakan harga minyak telah memperkuat ekspektasi inflasi global, membatasi ruang kebijakan moneter untuk melunak dalam waktu dekat dan menambah tantangan bagi bank sentral di berbagai negara.
Di sisi lain, pembahasan mengenai pelepasan cadangan minyak darurat oleh G7 dan IEA menjadi faktor sementara yang bisa menambah pasokan dan meredakan kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek.
Dari sudut pandang teknikal, tren jangka pendek terlihat bullish karena harga bergerak tinggi dan berada di atas Rata-rata Pergerakan Eksponensial 10-mingguan yang sedang naik, menegaskan kelanjutan aksi beli.
Indikator RSI menunjukkan level sekitar 86, menandakan kondisi overbought namun kontekstual pada breakout baru, sehingga momentum kenaikan tetap kuat meskipun tingkat jenuh muncul dalam jangka pendek.
Support utama berada di sekitar 100 dollar, sementara resistance terdekat berada di sekitar 120 dollar dan target jangka panjang mendekati level multi-tahun di 126.50. Asalkan harga tetap di atas 100, skema upside tetap dominan.