Rally saham AS mengguncang lantai bursa dengan momentum dahsyat, seolah menendang habis keraguan yang membayangi perdagangan. Pasar merespon positif berita gencatan senjata dua pekan antara AS, Iran, dan Israel serta penurunan harga minyak yang menenangkan volatilitas. Dengan sinyal yang lebih terang, investor mulai memperhitungkan arah baru bagi pergerakan indeks utama di tengah ketidakpastian geopolitik.
S&P 500 melonjak 2,6 persen, Dow Jones Industrial Average naik 1.383 poin atau 3 persen, dan Nasdaq menguat 3,3 persen, mengikuti reli signifikan di Asia dan Eropa. Lonjakan ini menandai pemulihan dari tekanan sebelumnya, meski level risiko geopolitik masih membayangi. Pasar tampak menilai bahwa potensi dampak jangka panjang bisa lebih rendah jika jalur komunikasi tetap terbuka.
Namun, kondisi pasar belum pulih sepenuhnya ke level pra-konflik. Harga minyak tetap tinggi, menjaga tekanan pada inflasi dan membatasi ruang bagi kebijakan moneter. Investor juga tetap memperhatikan dinamika geopolitik, karena perubahan bisa terjadi dengan cepat dan bisa mengubah arah pasar secara tiba-tiba.
Dinamika harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar. Minyak mentah AS turun tajam; WTI turun 17,5 persen menjadi 93,15 dolar per barel dan Brent turun 16,6 persen menjadi 91,11 dolar per barel. Penurunan harga energi memberikan kelonggaran terhadap volatilitas pasar yang sebelumnya naik akibat kekhawatiran pasokan.
Di sisi lain, lonjakan harga bensin di AS menambah biaya transportasi dan berpotensi menaikkan inflasi. Rata-rata bensin di negara itu berada di atas 4,16 dolar per galon, meningkat dari level di bawah 3 dolar sebelum konflik. Kondisi ini mempengaruhi persepsi investor terhadap prospek suku bunga dan belanja konsumen.
Kebijakan yang berulang kali ditunda-tunda oleh pemerintahan terkait jalur pengiriman melalui Selat Hormuz turut menambah ketidakpastian pasar. Ketidakpastian ini bisa menahan langkah-langkah penyesuaian harga energi dan mempengaruhi dinamika perdagangan aset berisiko.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,25 persen dari 4,33 persen. Perubahan ini menandakan berkurangnya kekhawatiran inflasi dan potensi penurunan kebijakan suku bunga jangka menengah, yang biasanya mendorong harga aset berisiko.
Kondisi ini menunjang sentimen pasar yang lebih konstruktif, meskipun para analis menilai bahwa ketidakpastian politik bisa membalikkan tren. Takashi Hiroki, Kepala Strategi Monex, menyebut ada alasan untuk optimisme, namun konteks politik yang melibatkan Trump membuat investor tetap waspada. Tim Waterer dari KCM Trade menekankan bahwa pasar sedang menyeimbangkan antara optimisme dan risiko kebijakan jangka pendek.
Gencatan senjata yang berlangsung dua pekan membuat peta risiko pasar benar-benar dinamis. Investor akan memantau bagaimana cepat jalur pengiriman di Selat Hormuz pulih dan apakah kesepakatan ini bisa berkembang menjadi perdamaian yang lebih permanen, sehingga arah indeks global kedepannya bisa berubah seiring sentimen ekonomi dan geopolitik.