Guncangan di wilayah Teluk Persia terkait pemogokan di fasilitas Ras Laffan dan penutupan Selat Hormuz telah mengakhiri surplus LNG secara efektif. Kondisi ini mengubah dinamika pasokan menjadi lebih rapuh, meningkatkan volatilitas harga gas yang menjadi acuan di pasar Eropa. Rabobank menilai eskalasi ini memaksa pasar melakukan re-pricing yang signifikan pada kargo LNG dan gas benchmark Eropa.
Ketatnya pasokan LNG membantu Asia dan Eropa bersaing untuk kargo yang terbatas. Ketika aliran LNG menurun, pembeli di kedua wilayah cenderung membayar premi lebih besar untuk memastikan pasokan. Analisis ini menekankan pentingnya memahami perubahan struktur pasokan global dalam menentukan arah harga jangka pendek maupun menengah.
Situasi ini juga menambah tekanan pada harga regional karena tidak ada langkah pemulihan yang segera terlihat. Perubahan ini berdampak pada volatilitas pasar futures, karena pelaku pasar menilai risiko gangguan berkelanjutan dan durasi efeknya terhadap keseimbangan pasokan.
Penutupan Hormuz diperkirakan bertahan hingga akhir April, sehingga pemulihan aliran LNG tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Penguatan pembatasan pasokan berpotensi berlanjut lebih lama dari perkiraan awal, menambah tekanan biaya gas di Eropa dan di seluruh wilayah yang bergantung pada LNG impor.
Untuk 2026, proyeksi menunjukkan total pasokan LNG global sekitar 443 juta ton, tidak jauh berbeda dengan 2025. Sementara itu, tambahan LNG dari sumber lain, termasuk produksi AS, tidak lagi cukup untuk menyeimbangkan gangguan di Timur Tengah dan Afrika Utara jika kondisi geopolitik tetap terganggu.
Dengan dinamika pasokan yang rapuh, persaingan antara Asia dan Eropa untuk cargo LNG menjadi faktor penentu. Para analis memperkirakan bahwa harga TTF di kuartal kedua 2026 akan tetap berada pada level yang lebih tinggi, diikuti profil harga yang menurun di sisa tahun, tergantung pada evolusi aliran energi di jalur utama.
Bagi pembeli, ketidakpastian pasokan LNG menekankan perlunya langkah manajemen risiko yang lebih agresif. Diversifikasi sumber pasokan, pemantauan lebih ketat terhadap perkembangan geopolitik, serta opsi hedging dapat membantu mengurangi paparan volatilitas harga.
Investor dan pedagang disarankan untuk menilai profil risiko portofolio LNG mereka seiring proyeksi harga berubah. Strategi jangka menengah hingga panjang perlu mempertimbangkan potensi defisit pasokan dan dinamika permintaan yang berkembang secara moderat di kedua sisi samudra.
Artikel ini disusun dengan bantuan alat AI dan disunting secara cermat untuk menjaga integritas informasi. Cetro Trading Insight menekankan bahwa proyeksi harga sangat dipengaruhi kondisi geopolitik dan kebijakan energi yang dinamis, sehingga pembaca disarankan mengikuti update terbaru.