Menurut analisis yang dirilis oleh Cetro Trading Insight, tekanan inflasi yang dipicu oleh energi serta tekanan harga inti masih menunjukkan tren yang cukup tinggi. Lonjakan harga minyak global dan permintaan domestik yang tetap kuat menjaga risiko inflasi di skew arah atas. Kondisi ini menambah bobot pada argumen bahwa RBA berpotensi menambah kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Mei.
Tim riset menilai bahwa rally AUD didorong oleh dinamika harga energi dan momentum permintaan domestik yang tetap solid. Perbedaan suku bunga relatif antara Australia dan mitra utama serta panduan kebijakan RBA menjadi faktor kunci yang memudarkan risiko bagi AUD dalam beberapa bulan ke depan. Secara keseluruhan, skenario ini mendukung pandangan bahwa AUD akan mempertahankan posisi kuat terhadap pasangan terkait dolar AS.
Disamping itu, para analis menekankan bahwa meski ada risiko geopolitik berupa konflik antara AS dan Iran, RBA kemungkinan tetap mengedepankan pendekatan yang fleksibel dan bergantung pada data. Dengan demikian, fokus investor adalah bagaimana data inflasi dan dinamika biaya hidup memandu kebijakan berikutnya. Analisis ini disampaikan dengan merujuk pada laporan pasar yang dipantau Cetro Trading Insight.
Riset menunjukkan bahwa pasar telah mencatat perubahan ekspektasi mengenai langkah kebijakan RBA. Beberapa kalangan memangkas proyeksi kenaikan pada pertemuan 5 Mei menjadi sekitar 18 basis poin dari sebelumnya 21 basis poin. Meski demikian, konsensus masih memberikan ruang bagi RBA untuk melakukan kenaikan tanpa mengguncang pasar obligasi secara signifikan.
Analisis menunjukkan kurva imbal hasil saat ini menggabungkan sekitar 60 basis poin kenaikan total hingga akhir tahun. Hal ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap sikap kebijakan yang lebih hawkish secara bertahap, meski tetap data-driven. Perubahan ini juga memainkan peran penting dalam menjaga nilai tukar AUD terhadap dolar AS dalam tren positif.
Selain itu, para analis menyatakan bahwa perlahan-lahan inflasi jasa sedang menunjukkan tanda pelonggaran, tetapi tekanan layanan tidak sepenuhnya mereda karena faktor-faktor seperti kenaikan harga energi. Ekspektasi CPI YoY 2Q yang mendekati 5% diperkirakan akan menjadi ujian bagi proyeksi target inflasi RBA hingga 2026, yang pada akhirnya akan memengaruhi jalur kebijakan selanjutnya.
Dalam skenario konflik yang sedang berlangsung, dinamika pasar tetap mengaplikasikan skenario pembukaan sebagian Selat Hormuz pada Mei sebagai faktor risiko yang bisa mempengaruhi arus perdagangan energi. Meskipun demikian, analisis menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang responsif terhadap data dapat menjaga stabilitas AUDUSD, terutama jika tekanan inflasi inti tetap terkendali.
Ketidakpastian eksternal seperti gangguan pasokan minyak dapat memperpanjang efek pass-through ke biaya transportasi, listrik, dan utilitas. Hal ini berpotensi menambah tekanan pada CPI secara keseluruhan meski ada komponen biaya tertentu yang mulai mereda. Secara keseluruhan, dinamika risiko eksternal tetap menjadi kunci bagi arah kebijakan RBA dan pergerakan AUDUSD ke depan.
Dalam konteks analisis ini, simpulan utama adalah bahwa faktor fundamental tetap menjadi penentu utama arah pergerakan pasangan ini. RBA kemungkinan akan melanjutkan sikap kebijakan yang hawkish namun tetap fleksibel, dengan data sebagai panduan utama. Kontak ini disampaikan sebagai bagian dari evaluasi Cetro Trading Insight terhadap pasar saat ini.