Tim Global Strategy TD Securities mencatat bahwa Bank RBA menaikkan suku bunga pada Maret karena inflasi yang tetap tinggi, permintaan kuat, pasar tenaga kerja yang ketat, dan harga minyak yang lebih tinggi. Mereka memperkirakan kenaikan suku bunga lagi pada Mei jika minyak tetap di atas US$100 dan inflasi berada di atas 5% secara tahunan, meski menekankan ketergantungan pada data dan ketidakpastian jalur kebijakan berikutnya.
RBA menilai tekanan inflasi tetap tinggi karena permintaan domestik kuat dan biaya tenaga kerja yang masih membengkak, sementara minyak yang lebih tinggi menambah risiko inflasi dalam jangka pendek. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga menunjukkan tanda-tanda melemah dan pertumbuhan biaya tenaga kerja per unit melambat, sehingga argumen untuk menahan kebijakan lebih kuat.
Meskipun kemungkinan kenaikan pada Mei terlihat, bank sentral menekankan bahwa keputusan masa depan sangat bergantung pada data ekonomi yang masuk. Ketidakpastian jalur kebijakan menggarisbawahi bahwa otoritas berusaha menyeimbangkan upaya mengekang inflasi dengan risiko melambatnya permintaan secara lebih tajam.
Harga minyak yang bertahan di atas US$100 mendorong risiko inflasi dalam jangka pendek menjadi lebih tinggi. RBA menjelaskan bahwa energi menjadi kontributor utama bagi kenaikan harga, meskipun permintaan tenaga kerja tetap kuat dan kondisi keuangan global tidak selalu restriktif. Hal ini menambah tantangan bagi bank sentral untuk menahan laju kebijakan.
Faktor lain yang mempengaruhi kebijakan adalah ketidakpastian pertumbuhan ekonomi domestik, terutama konsumsi rumah tangga yang bisa melambat. Skenario menahan kebijakan tetap relevan karena biaya tenaga kerja per unit tumbuh melambat, memberikan ruang bagi bank sentral untuk menilai data lebih lanjut sebelum langkah berikutnya. Dinamika minyak dan inflasi juga mempengaruhi keputusan bank sentral di seluruh dunia, termasuk RBA.
Keputusan masa depan akan sangat bergantung pada data yang akan datang, termasuk inflasi inti, laporan pekerjaan, dan harga minyak. Pelaku pasar akan menimbang deviasi antara prediksi dan realisasi data untuk menilai intensitas tekanan inflasi terhadap permintaan domestik maupun global, sambil mempertimbangkan ketidakpastian kebijakan.
Secara praktis, dinamika ini berpotensi mempengaruhi AUDUSD melalui hubungan antara kebijakan moneter Australia dan pergerakan minyak global. Namun, tidak ada sinyal perdagangan eksplisit dari artikel ini, sehingga pedagang sebaiknya berhati-hati dan menunggu konfirmasi data sebelum mengambil posisi.
Secara fundamental, fokus analisis tetap pada inflasi, permintaan domestik, dan harga minyak, sehingga sinyal ini lebih cenderung fundamental daripada teknikal. Belum ada setup teknikal yang konsisten untuk posisi jangka pendek karena volatilitas masih tinggi dan data baru bisa mengubah arah pasar.
Secara keseluruhan, pandangan TD Securities menekankan bahwa jalur kebijakan RBA ke depan sangat bergantung pada data. Cetro Trading Insight menyarankan pembaca meninjau rilis inflasi dan dinamika harga minyak secara cermat sebelum memutuskan trading pada pasangan AUDUSD. Laporan ini ditujukan bagi pembaca yang ingin memahami risiko dan peluang di pasar makro global.