IHSG meluncur di sesi II dengan kecepatan yang mengejutkan, menandai awal pelemahan yang bisa memicu volatilitas lanjut. Indeks utama turun 0,61 persen ke level 7.048,22, menutup peluang bagi investor untuk melihat perbaikan di pekan ini. Pasar tetap berada di bawah garis psikologis 7.000 meski bergerak dalam koridor sempit antara 7.031 dan 7.122, menunjukkan adanya kehati-hatian di kalangan pelaku pasar. Dalam perdagangan reguler tercatat sekitar 246 juta lembar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi sekitar Rp13,92 triliun.
Kendati IHSG menurun, beberapa indeks sektoral menunjukkan dinamika yang mirip dengan pasar secara keseluruhan. IDX30 tergelincir tipis 0,03 persen, sedangkan LQ45 melemah 0,23 persen. JII dan ISSI yang kemarin menghijau juga mengalami koreksi masing-masing 0,21 persen dan 0,50 persen, mencerminkan perubahan selera investor terhadap beberapa sektor utama. Secara umum, investor tampak berhati-hati meski beberapa saham mencoba bertahan, mengindikasikan masa paparan risiko yang lebih tinggi menjelang penutupan perdagangan.
Sektor energi menjadi beban utama bagi IHSG pada perdagangan hari ini. Saham Adaro Andalan Indonesia Tbk AADI turun 3,43 persen menjadi 11.275 setelah reli lebih dari 60 persen sepanjang 2026. Kendati demikian, aktivitas profit taking mengundang tekanan pada sektor energi secara keseluruhan. Sektor TRANSPORTasi menyumbang penurunan terbesar dengan anjlok 4,6 persen, terdorong oleh pelemahan GIAA minus 8 persen dan ELPI minus 10 persen. Sektor ENERGY juga melemah 2,75 persen dan TECHNOLOGY turun 1,31 persen.
Di tengah tekanan IHSG, dinamika sektor ENERGY menunjukkan pelemahan yang cukup dalam, turun sekitar 2,75 persen. Sektor TECHNOLOGY juga mencatat penurunan meskipun tidak sebesar sektor energi. Sementara sektor NON-CYCLICAL menunjukkan ketahanan relatif dengan rebound 1,48 persen berkat pergerakan saham konsumen utama seperti ICBP yang menguat 1,7 persen dan AMRT yang melonjak sekitar 5,3 persen. Perubahan ini menandakan adanya pergeseran preferensi investor antara saham defensif dan siklis yang sedang mencoba mendapatkan pijakan di pasar yang volatil.
Analisa kompetitif menunjukkan bahwa momentum pasar saat ini cenderung berputar antara tekanan jual yang intens di beberapa saham berkapitalisasi besar dengan dorongan pada saham-saham defensif. Investor tampak menilai kembali valuasi di sektor energi dan transportasi sambil menantikan konfirmasi arah dari rilis data ekonomi dan kebijakan fiskal yang dapat memicu pergeseran lebih lanjut. Menurut Cetro Trading Insight, dinamika ini dapat berlanjut dalam beberapa sesi mendatang jika volatilitas global tetap tinggi dan arus likuiditas tidak membaik secara signifikan.
Beberapa saham menjadi sumber kunci dorongan pada sesi ini. BKSL Sentul City Tbk naik 9 persen ke level 112, menunjukkan minat investor pada aset properti dan proyek pengembangan kota. Sementara BALI Towerindo Sentra Tbk melonjak 8 persen ke 1.380, memperlihatkan minat pada infrastruktur jaringan telekomunikasi. MSIN MNC Digital Entertainment Tbk juga menguat 8 persen ke 630, menandakan permintaan terhadap konten digital dan platform streaming yang sedang tumbuh di pasar domestik.
Di sisi lain, daftar top losers turut meningkat. MDIY Daya Intiguna Yasa Tbk turun 15 persen ke 770, ELPI Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk turun 10 persen ke 1.935, dan IMAS Indomobil Sukses Internasional Tbk turun 9 persen ke 935. Pergerakan saham ini mencerminkan tekanan yang lebih besar pada sektor otomotif, logistik, dan perusahaan yang terdampak dari dinamika biaya serta permintaan konsumen yang melambat.
Meskipun ada variasi kinerja antar saham, fokus investor tetap pada arah IHSG yang cenderung melemah dengan volatilitas pasar yang tinggi. Para pelaku pasar disarankan memperhatikan level support dan resistance untuk menentukan langkah di sesi berikutnya, sambil mempertimbangkan profil risiko masing masing saham yang sedang diperhatikan. Analisa internal oleh Cetro Trading Insight menekankan pentingnya kehati hatian, manajemen risiko, dan diversifikasi portofolio dalam menghadapi likuiditas yang masih tipis serta pergerakan indeks yang tidak menentu.