Menurut Cetro Trading Insight, pergerakan harga minyak mentah dan komoditas lainnya menjadi motor utama bagi tekanan inflasi di China. Analisis ini menekankan bahwa biaya produksi yang lebih tinggi dapat diteruskan ke harga jual, sehingga CPI untuk 2026 diperkirakan naik menjadi sekitar 1,2 persen dari proyeksi sebelumnya 0,6 persen. Kondisi ini menandakan transisi dari deflasi menuju fase reflasi yang lebih terukur, meski tingkat inflasi masih relatif moderat.
Rilis terbaru juga menegaskan revisi proyeksi harga minyak Brent menjadi USD 85,5 per barel untuk 2026, sekitar 35% lebih tinggi dibanding perkiraan akhir 2025. Dampak lantai biaya ini dipandang tidak dapat diabaikan, terutama pada PPI, karena kemungkinan mendorong harga barang dan biaya logistik ke tingkat yang lebih tinggi. Meski begitu, dampaknya terhadap inflasi China akan sangat tergantung pada kemampuan produsen menahan kenaikan biaya di rantai pasok.
Sebagai konteks, tanda-tanda reflasi sudah terlihat bahkan sebelum penguatan harga minyak terakhir, didorong oleh kenaikan harga logam di sektor hulu dan manajemen kapasitas domestik. Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi inti lebih tinggi jika permintaan tetap kuat. Cetro Trading Insight menilai dinamika ini perlu diawasi agar reflasi tidak berujung pada tekanan berlebih namun tetap berkelanjutan.
Para analis mencatat bahwa inflasi biaya dorong berpotensi mengecilkan margin keuntungan industri jika perusahaan tidak berhasil menyalurkan kenaikan biaya ke konsumen. Risiko ini dapat mempengaruhi investasi dan produksi jangka pendek, meski evaluasi kebijakan tetap menyarankan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga.
Inflasi positif juga memiliki sisi positif, yakni membantu meredam ekspektasi deflasi yang telah bertahan lama. Ketika didampingi belanja fiskal lebih aktif untuk mendorong permintaan domestik, reflasi dapat berlanjut secara berkelanjutan tanpa menggerus daya beli secara signifikan.
Proyeksi menunjukkan CPI rata-rata 2026 sekitar 1,2 persen dan PPI sekitar 0,8 persen, menandai berakhirnya deflasi selama beberapa tahun. Deflator PDB diperkirakan kembali positif tahun ini, meski terdapat risiko terkait permintaan global dan volatilitas harga komoditas yang perlu diawasi secara ketat.
Kebijakan moneter menunjukkan PBoC tetap pada posisi akomodatif, dengan sikap yang hati-hati terhadap pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Langkah ini sejalan dengan evaluasi bahwa reflasi moderat dapat mendukung pertumbuhan tanpa memicu lonjakan inflasi, sambil menjaga likuiditas tetap cukup bagi sektor produktif.
Di sisi risiko, hambatan pemangkasan suku bunga meningkat karena sinyal reflasi yang sedang tumbuh dan volatilitas harga komoditas. Pengawasan terhadap dinamika fiskal domestik juga diperlukan, karena kebijakan belanja yang lebih agresif bisa meningkatkan permintaan tanpa mengorbankan stabilitas harga dalam jangka pendek.
Para analis menambahkan bahwa peningkatan kualitas implementasi kebijakan fiskal akan mempengaruhi dampak permintaan terhadap ekonomi. Secara keseluruhan, kombinasi kebijakan yang terarah diharapkan menjaga kesinambungan reflasi tanpa menimbulkan tekanan harga yang berlebihan sepanjang 2026, sambil memberi ruang bagi pertumbuhan nyata.