Para ekonom Societe Generale menilai reformasi aturan debt brake yang sebelumnya membatasi pengeluaran untuk infrastruktur dan pertahanan telah mengubah dinamika fiskal Jerman. Meskipun kemajuan terasa lebih lambat dari ekspektasi, belanja publik diperkirakan melonjak seiring berlakunya anggaran untuk 2025 dan 2026. Laporan ini, disusun dengan dukungan analitis dari Cetro Trading Insight, menekankan bahwa perubahan kebijakan memindahkan fokus fiskal ke investasi dan konsumsi serta membentuk dasar bagi arah pertumbuhan di kawasan euro.
Defisit publik diperkirakan meningkat dari sekitar 2,7 persen terhadap PDB pada 2025 menjadi di atas 4 persen pada tahun berjalan, dan diperkirakan tetap tinggi hingga 2029. Hal ini menandai perubahan ukuran ruang fiskal tahun-tahun mendatang dibandingkan periode sebelumnya. Para analis menyoroti bahwa langkah ini bisa mempercepat pembangunan infrastruktur serta program pertahanan tanpa mengorbankan stabilitas finansial jangka panjang.
Dua faktor utama akan menentukan besarnya dorongan terhadap perekonomian Jerman serta seberapa besar spillover yang mungkin terjadi ke negara lain di zona euro. Faktor pertama adalah slack yang tersedia di ekonomi Jerman dan zona euro, yang dipengaruhi oleh dinamika demografis. Faktor kedua adalah respons kebijakan ECB yang berperan sebagai penyeimbang terhadap tekanan inflasi jika respons kebijakan berjalan lambat.
Secara khusus, output gap Jerman masih relatif kecil meskipun ada ketidakpastian. Pasar tenaga kerja tetap rapat karena tekanan demografis. Ketika kapasitas investasi makin besar, sebagian dana dipakai untuk konsumsi, sehingga dorongan ke output bisa terfragmentasi. Ekonomi Jerman mungkin melihat peningkatan momentum yang tidak sepenuhnya sejalan dengan proyeksi awal, sementara spillover ke mitra zona euro tetap menjadi kemungkinan signifikan.
Proyeksi pertumbuhan Jerman diperkirakan meningkat sekitar 0,5 hingga 0,8 persentase poin hingga 2029, meski besaran dampaknya tergantung pada bagaimana dana investasi dialokasikan. Sesuai analisis, perubahan fiskal ini bisa mendorong pertumbuhan lebih lanjut tanpa mengorbankan stabilitas harga. Risiko inflasi juga dianggap cenderung ke arah peningkatan karena permintaan yang lebih kuat.
Selanjutnya, risiko serta peluang gelombang kebijakan akan terlihat lebih jelas dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Spillover ke zona euro diperkirakan memuncak pada dua tahun pertama dengan kontribusi terhadap pertumbuhan area euro yang bersifat kumulatif sekitar seperempat hingga setengah persentase poin. Secara keseluruhan, gambaran ini menunjukkan bahwa reformasi Jerman membawa peluang serta tantangan bagi kestabilan harga dan keseimbangan kebijakan.
Analisis ini menekankan bahwa risiko inflasi berada pada sisi upside jika dorongan fiskal memicu permintaan lebih kuat. Langkah ECB untuk merespons terlalu lambat dapat memperkuat keuntungan pertumbuhan bagi Jerman maupun negara anggota lainnya, tetapi dengan biaya inflasi yang lebih tinggi. Ketidakpastian kebijakan menempatkan investor pada posisi menilai timing dan durasi langkah moneter ke depan.
Spillover ke zona euro diperkirakan memuncak pada dua tahun pertama, dengan kontribusi terhadap pertumbuhan area euro yang bersifat kumulatif sekitar seperempat hingga setengah persentase poin. Pada saat yang sama, pertumbuhan di Jerman bisa lebih lambat dari ekspektasi jika faktor demografis dan alokasi investasi membatasi efek langsung. Secara keseluruhan, gambaran ini menunjukkan bahwa reformasi Jerman membawa peluang serta tantangan bagi kestabilan harga dan keseimbangan kebijakan.