Menurut laporan Reuters, sumber yang mengetahui proposal gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menyebut adanya kesepakatan dua tingkat. Rencana ini bertujuan mengakhiri permusuhan pada Senin mendatang dan secara bertahap membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Di samping itu, Iran diperkirakan akan menanggalkan ambisi nuklirnya sebagai pertukaran atas pencabutan sanksi dan pembebasan aset yang dibekukan.
Skema dua tingkat ini membagi proses menjadi dua fase utama: gencatan senjata segera jika tercapai, lalu penyelesaian perjanjian akhir dalam 15-20 hari. Fokus utamanya adalah menormalkan aliran minyak melalui Hormuz dan menurunkan risiko eskalasi militer di Teluk. Verifikasi kemajuan kebijakan nuklir akan menjadi bagian dari tahap kedua, bersama dengan mekanisme pemulihan ekonomi Iran melalui pelonggaran sanksi.
Analisis awal dari Cetro Trading Insight menilai bahwa opsi dua tingkat ini menandai perubahan dalam dinamika diplomasi AS–Iran. Para pengamat menyoroti perlunya dukungan dari aktor regional untuk menjaga stabilitas, sementara faktor domestik di kedua negara bisa mempengaruhi kelancaran proses. Keberhasilan rencana ini juga akan dipengaruhi oleh keterbukaan informasi dan kejelasan komitmen dari para pihak.
Rincian proposal menjelaskan bahwa tahap pertama menekankan gencatan senjata dan pembukaan jalur pelayaran di Hormuz sebagai langkah perdana, disertai jaminan sementara atas pelonggaran sanksi. Iran diperkirakan setuju untuk menangguhkan program nuklirnya sebagai bagian dari kesepakatan final, sementara negara-negara Barat berupaya mencabut sebagian sanksi dan membebaskan aset beku secara bertahap sesuai verifikasi.
Penjelasan ini menilai bahwa pelonggaran sanksi serta pembebasan aset beku bisa merangsang pemulihan ekonomi Iran dan memulihkan visibilitas pasar energi global jika rute perdagangan kembali normal. Namun, kesepakatan akhir akan bergantung pada pemenuhan komitmen nuklir dan mekanisme verifikasi yang ketat. Perdagangan energi global diperkirakan merespons positif jika Hormuz berfungsi normal secara konsisten.
Para analis menekankan bahwa rencana dua tingkat ini membutuhkan persetujuan multilateral dan dukungan politik di Washington serta respons dari sekutu regional. Batas waktu 15-20 hari untuk mencapai kesepakatan akhir meningkatkan tekanan pada negosiator sambil menekankan pentingnya transparansi. Risiko teknis dan dinamika internal kedua negara tetap menjadi hambatan utama.
Langkah diplomatik juga terlihat melalui komunikasi antar-pemangku kepentingan, termasuk pembicaraan terpisah antara kepala militer Pakistan dengan Wakil Presiden AS dan utusan khusus mengenai Iran. Upaya ini menandai dorongan untuk membangun konsensus regional dalam menghadapi ketegangan di Timur Tengah. Keterlibatan aktor lain menguatkan logika menjaga stabilitas jalur perdagangan utama.
Jika rencana ini terealisasi, potensi dampak terhadap pasar energi bisa positif karena aliran minyak dan gas melalui Hormuz bisa kembali berjalan lancar tanpa hambatan besar. Investor juga bisa merespons dengan peningkatan optimisme terhadap prospek makro wilayah. Namun, risiko geopolitik dari kekuatan lain dan volatilitas harga komoditas tetap perlu diperhatikan.
Menurut liputan Cetro Trading Insight, jadwal negosiasi yang ambisius menekankan pentingnya verifikasi dan transparansi dalam langkah-langkah akhir. Pembaca di seluruh dunia dinilai perlu memahami mekanisme verifikasi nuklir dan jaminan keamanan ekonomi yang disepakati. Meskipun sentimen membaik, dinamika politik masih bisa mengubah arah perundingan jika terjadi pelanggaran atau kejutan diplomatik.