Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight, bagian dari Cetro Trading Insight, untuk memberikan gambaran jelas tentang arah kinerja RMKO dan RMKE. RMKO menargetkan angkutan batu bara melalui hauling road sebanyak 1,8 juta ton dan TLS sebesar 3,6 juta ton pada 2026. Target ambisius ini mencerminkan peralihan dari fase investasi menuju operasi yang lebih mature, dengan dukungan infrastruktur terintegrasi yang berfungsi sebagai tulang punggung rantai pasok. Target tersebut juga menandai komitmen perusahaan untuk pertumbuhan berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan dan mitra usaha.
Seiring dengan rencana tersebut, RMKO menegaskan bahwa klien baru yang memanfaatkan jalan hauling milik RMKE akan memperkuat momentum ekspansi volume. Pihak manajemen menyatakan transisi ini tidak hanya akan meningkatkan kapasitas operasional, tetapi juga memperkuat stabilitas pendapatan melalui peningkatan pemanfaatan infrastruktur yang sudah ada. Informasi ini disampaikan dalam keterangan resmi yang dirilis pada Kamis, 19 Februari 2026.
Ruang lingkup peningkatan kinerja ini juga menggambarkan bagaimana infrastruktur yang terintegrasi dapat memberikan manfaat nyata bagi para pemangku kepentingan. Analisis ini menyoroti bahwa integrasi antara RMKO, RMKE, serta TLS berpotensi menghadirkan sinergi biaya dan peningkatan efisiensi logistik secara keseluruhan. Dalam konteks pasar Indonesia, langkah ini juga dipandang sebagai sinyal positif terhadap keandalan pasokan batu bara bagi pengguna akhir.
Penyelesaian dan operasional penuh fasilitas hauling RMKE dipandang sebagai kunci utama yang akan mendorong volume angkutan batu bara secara nyata. Sejak jalan hauling RMKE beroperasi penuh pada akhir tahun lalu, TLS menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Data menunjukkan TLS melonjak sebesar 3,7 kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya, menandakan kemampuan infrastruktur untuk menampung arus logistik yang lebih besar.
Di sisi operasional, RMKO telah berhasil memuat 200 ribu ton batu bara melalui kereta api, meningkat dari 42,9 ribu ton di periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini menggarisbawahi bagaimana sinergi antara moda transportasi dan fasilitas pendukung dapat mendorong efisiensi dan kapasitas layanan. Peningkatan volume TLS juga sejalan dengan lonjakan volume hauling road sebesar 80,8 persen secara year-on-year (yoy), dari 16,3 ribu ton menjadi 29,5 ribu ton.
Ekspansi ini tidak semata berasal dari karya internal, melainkan juga kontribusi pihak ketiga yang memanfaatkan jalan hauling yang sama. Fenomena ini menunjukkan bahwa ekosistem infrastruktur yang terhubung dapat menarik lebih banyak pengerjaan angkutan batu bara tanpa menambah investasi modal pada jaringan utama. Secara keseluruhan, tren ini mencerminkan peningkatan kinerja operasional RMKO dan RMKE sejak akhir tahun lalu, dengan optimisme kuat untuk awal tahun berikutnya.
Analisis operasional menunjukkan bahwa sinergi antar segmen grup tetap menjadi motor utama pertumbuhan. RMKO telah meningkatkan kinerja sejak akhir tahun lalu melalui pemanfaatan fasilitas yang terintegrasi dengan RMKE, TLS, dan jaringan logistik terkait. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana koordinasi antar unit usaha bisa menghadirkan skala ekonomi yang lebih besar dan meningkatkan daya saing di pasar tambang batu bara.
Di sisi pendapatan, kerja sama dengan tambang pihak ketiga memperluas basis klien dan sumber pendapatan bagi perseroan. Sejak 2025, RMKO mulai menggarap tambang-tambang milik pihak ketiga yang sebelumnya menjadi pelanggan RMKE, sehingga aliran kas lebih tersebar dan risiko operasional dapat didiversifikasi. Ekspansi ini didukung oleh infrastruktur pendukung yang terintegrasi dengan baik, sehingga RMKO dapat menjaga kelancaran pasokan meskipun menghadapi fluktuasi permintaan.
Namun, perseroan juga sadar akan risiko regulasi yang bisa mempengaruhi rencana operasional. Pemerintah daerah menetapkan larangan penggunaan jalan umum untuk angkutan batu bara efektif mulai 1 Januari 2026, yang menambah kompleksitas perencanaan kapasitas dan alokasi rute. RMKO menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi antar unit serta memperluas pemanfaatan infrastruktur guna menjaga pertumbuhan volume meski dinamika regulasi berubah.
Dari sisi prospek, fasilitas terintegrasi memudahkan aliran kerja antara tambang, TLS, dan jaringan kereta api, sehingga operasional logistik menjadi lebih andal dan responsif terhadap permintaan pasar. Efisiensi lintasan logistik yang lebih tinggi diperkirakan akan menurunkan biaya per ton dan meningkatkan keandalan pengiriman kepada pelanggan. Dengan demikian, RMKO dan RMKE berada pada posisi yang lebih kuat untuk mempertahankan pertumbuhan volume meski menghadapi perubahan iklim pasar dan kebijakan publik.
Peluang tambahan muncul dari kerja sama dengan pihak ketiga yang memperluas peluang pendapatan non-hauling. RMKO berharap bahwa peningkatan volume dari tambang pihak ketiga dapat berlanjut sepanjang 2026, didukung oleh kontrak jangka panjang serta keandalan infrastruktur pendukung. Hal ini akan memperkuat stabilitas pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada satu segmen saja.
Meski demikian, manajemen menekankan pentingnya pemantauan regulasi lingkungan dan kebijakan energi untuk menjaga kelangsungan rencana jangka menengah. Dengan fokus pada integrasi aset dan manajemen risiko, RMKO dan RMKE menilai prospek tetap positif meskipun terdapat ketidakpastian pasar. Perkembangan ini juga sejalan dengan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas jaringan mitra di sektor tambang Indonesia.