Rupee India menguat setelah konfirmasi kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan India. Kesepakatan tersebut mencakup relaksasi tarif dan komitmen perdagangan yang mendongkrak akses ekspor India ke pasar AS. Dalam rincian utama, Washington memangkas tarif impor dari India menjadi 18 persen, turun dari 50 persen pada beberapa barang tertentu.
Sebagai bagian dari kesepakatan, India setuju untuk menghapus tarif pada impor dari AS menjadi nol persen dan berkomitmen untuk membeli sejumlah barang Amerika, termasuk energi, pertanian, batu bara, dan teknologi, dengan nilai sekitar 500 miliar dolar. Kesepakatan tersebut dinilai akan meningkatkan keunggulan kompetitif eksportir India di Asia Selatan dan di antara negara ASEAN.
Reaksi pasar juga terlihat pada saham India. Indeks Nifty50 dibuka melonjak hampir 3,5 persen mendekati 26.330, dipicu oleh lonjakan sektor teknologi, permata dan perhiasan, tekstil, serta perusahaan pasar modal. Analis mencatat dampak positif terhadap sentimen investor, meski fokus utama tetap pada kebijakan RBI dan data NFP AS yang akan dirilis berikutnya.
Para pelaku pasar mencermati pergerakan dolar AS yang sedikit melemah setelah reli dua hari terakhir. Indeks Dolar AS atau DXY turun sekitar 0,2 persen ke level mendekati 97,45, menimbang dampak penutupan sebagian pemerintah AS terhadap rilisan data ekonomi kunci. Investor juga menunggu serangkaian data utama yang dirilis minggu ini untuk menilai momentum ekonomi AS.
Pada bagian lain, PMI Manufaktur ISM AS untuk Januari menunjukkan aktivitas manufaktur kembali ekspansif dengan pembacaan 52,6, lebih tinggi dari perkiraan 48,5 dan angka sebelumnya 47,9. Angka di atas 50 menandakan perluasan aktivitas bisnis. Di sisi kebijakan, kabar bahwa Warsh diperkenalkan sebagai calon Ketua The Fed menambah ketidakpastian terkait jalur suku bunga jangka menengah.
Rising talk tentang kebijakan moneter RBI serta rilis data NFP AS bulan ini menjadi fokus utama bagi pelaku pasar. Banyak investor menilai bahwa jalur suku bunga di perekonomian besar akan menjadi penentu arah dolar dan rupee dalam beberapa pekan ke depan. Meski begitu, dinamika harga komoditas dan faktor geopolitik dapat memperkaya volatilitas pasar valuta asing.
Secara teknis, USDINR turun tajam mendekati 90,35 setelah rally sebelumnya. Harga bergerak di bawah EMA 20-hari sekitar 91,08, menunjukkan bias jangka pendek melemah dan potensi koreksi lebih lanjut masih terbuka. RSI 14-hari berada di sekitar 43, menandakan momentum bearish belum pulih dan peluang penurunan masih ada.
Kewaspadaan bagi trader adalah apabila pasangan mampu merebut kembali closing di atas EMA 20-hari, maka tekanan turun bisa mereda dan peluang stabilisasi meningkat. Jika berada di bawah EMA, risk-off bisa berlanjut dengan rentang perdagangan yang melebar. Faktor fundamental juga tetap memainkan peran penting dalam arah pergerakan jangka menengah.
Analisis sinyal trading dari Cetro Trading Insight menunjukkan peluang jual USDINR dengan target 88,50 dan stop loss di 91,00, memprioritaskan rasio risiko-imbalan minimal 1:1,5. Sinyal ini konsisten dengan dinamika pasar saat ini yang mendukung apresiasi rupee terhadap dolar dan fokus pada kebijakan RBI serta data NFP mendatang.