
Rupiah berada di bawah tekanan signifikan, mendekati kisaran Rp17.900 per dolar AS pada pagi Kamis, 28 Mei 2026. Kondisi ini muncul di tengah suasana geopolitik global yang memanas dan beban struktural dalam negeri yang menekan ruang gerak kebijakan. Di Cetro Trading Insight, kami melihat dinamika ini sebagai sinyal volatilitas yang perlu diantisipasi oleh pelaku pasar uang dan investor Indonesia.
Faktor eksternal menjadi motor utama pelemahan Rupiah. Ketegangan di Timur Tengah, setelah serangan militer AS terhadap fasilitas di Iran Selatan, juga disinyalir memicu irama baru pada harga minyak dunia. Lonjakan harga minyak, dengan WTI mendekati kisaran 92–96 dolar per barel, meningkatkan biaya logistik dan tekanan inflasi global, yang bisa menekan Rupiah lebih lanjut.
Dari sisi moneter, pernyataan pejabat Federal Reserve menambah dinamika di pasar global. Ketidakpastian suku bunga AS, termasuk kemungkinan kebijakan yang lebih restriktif, membuat dolar menguat secara eksternal meski ada faktor yang mengarah ke pelemahan internal. Analisis kami juga menyoroti bahwa sebagian ekonom menilai suku bunga AS bisa bertahan tinggi, sehingga rupiah menghadapi tantangan terhadap daya saingnya di pasar internasional.
Faktor domestik menjadi beban bagi laju Rupiah. Ketergantungan pada dolar untuk menutup biaya impor minyak meningkat seiring lonjakan harga energi, sehingga kebutuhan dolar memperburuk tekanan valuta asing. Selain itu, pembayaran dividen korporasi ke luar negeri dan peralihan simpanan masyarakat ke valas memperburuk tekanan likuiditas bagi rupiah. Pada garda depan fiskal, utang jatuh tempo pemerintah dengan biaya bunga yang tinggi menambah beban anggaran negara.
Di sektor tata kelola publik, isu-isu kebijakan juga mempengaruhi kepercayaan pasar. Penghentian sebagian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kasus Koperasi Merah Putih yang sedang disidik KPK serta Jaksa Agung menambah kekhawatiran mengenai efisiensi pengelolaan sumber daya pemerintah. Potensi kerugian negara bisa mencapai puluhan triliun rupiah, sehingga investor menimbang risiko fiskal dalam jangka pendek.
Kondisi arus modal keluar (capital outflow) yang besar tidak sepenuhnya bisa dibendung BI, meski bank sentral berusaha melakukan intervensi di pasar internasional pada masa libur domestik. Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah berpotensi melemah lebih lanjut, dengan proyeksi berada di sekitar Rp17.900 per dolar pada penutupan sesi. Saat ini, pasar mencatat Rupiah berada di sekitar Rp17.871 per dolar AS, mencerminkan pelemahan sekitar 0,39 persen secara harian.