Rupiah ditutup menguat 86 poin, sekitar 0,51%, ke level Rp16.802 per USD pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026. Perkembangan ini menambah kiprah mata uang domestik sebagai salah satu pasar yang menunjukkan resistensi terhadap tekanan eksternal dalam beberapa hari terakhir.
Penguatan ini sebagian didorong sentimen eksternal, seiring pasar menilai peluang untuk meredakan ketegangan antara AS dan Iran melalui putaran ketiga pembicaraan nuklir. Penilaian analis menunjukkan adanya peluang solusi diplomatik yang berada dalam jangkauan, meski tantangan diplomatik tetap ada.
Di sisi kebijakan, sejumlah kabar dari belahan luar negeri menambah volatilitas pasar. Presiden AS menyatakan rencana mengenakan tarif impor global sebesar 10% selama 150 hari berdasarkan Pasal 122, lalu tarif dinaikkan menjadi 15% sebagai maksimum yang diizinkan. Ketidakpastian mengenai durasi dan cakupan tarif, serta kemungkinan tantangan hukum dan kongres, berisiko menambah fluktuasi di pasar keuangan global. Syarat-syarat tersebut membuat investor menimbang risiko terhadap rantai pasokan dan pertumbuhan global. Sementara itu, rilis data PDB AS untuk kuartal keempat menunjukkan pelemahan YoY dari 4,4% menjadi 1,4%, sebagian dikaitkan dengan penutupan pemerintah selama 43 hari. Di sisi harga, PCE inti tumbuh 3,0% YoY, tetap di atas target 2% bank sentral, menambah sinyal bahwa kebijakan moneter akan tetap hati-hati.
Ruang kebijakan perdagangan AS menjadi fokus utama para investor, dengan peningkatan nyala tarif impor yang menambah beban pada rantai pasokan global. Analisis menunjukkan bahwa langkah 10% untuk 150 hari kemudian meningkat menjadi 15% maksimum menimbulkan kekhawatiran tentang respons mitra dagang dan dampaknya terhadap pertumbuhan global.
Di sisi kebijakan moneter, data PCE inti AS yang naik ke 3,0% YoY memperkuat asumsi bahwa Federal Reserve bisa menahan kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Meski demikian, perbedaan antara target 2% dan realisasi saat ini tetap menjadi faktor risiko terhadap volatilitas pasar keuangan global.
Dalam konteks Rupiah, ketidakpastian kebijakan di negara mitra utama dan volatilitas harga komoditas global memberikan dorongan pada volatilitas mata uang berkembang. Analis memperkirakan pergerakan dolar terhadap rupiah akan tetap dinamis, dengan kisaran perdagangan mendekati Rp16.770-Rp16.800 per USD pada beberapa sesi mendatang.
APBN Indonesia menunjukkan defisit sebesar Rp54,6 triliun per akhir Januari 2026, setara dengan 0,21% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Rincian pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun per Januari 2026, merepresentasikan 5,5% dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.153,6 triliun. Sementara belanja negara telah mencapai Rp227,3 triliun, setara 5,9% dari target belanja sebesar Rp3.842,7 triliun.
Defisit keseimbangan primer tercatat Rp4,2 triliun, padahal target keseimbangan primer didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, defisit APBN cenderung lebih tinggi, meski tetap berada dalam kerangka desain fiskal nasional. Pada Januari 2024, defisit APBN Rp23 triliun, lebih rendah dibandingkan realisasi Januari 2026.
Garis kebijakan keuangan negara untuk tahun 2026 dirancang dengan defisit total sekitar Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB, menandai komitmen pemerintah menjaga keuangan publik tetap terkendali meski ada tekanan belanja. Berdasarkan analisis ini, para analis memperkirakan rupiah akan bergerak secara fluktuatif dan cenderung menguat hanya dalam kisaran terbatas, dengan ruang gerak sekitar Rp16.770 hingga Rp16.800 per USD pada periode mendatang.