Rupiah berhasil menguat ke sekitar 16.700 per USD, menunjukkan berkurangnya tekanan dolar setelah gagal bertahan di dekat level 17.000. Pergerakan ini mencerminkan respons investor terhadap dinamika global dan fokus pasar pada arah kebijakan moneter AS yang akan datang. Rasa gelisah terhadap volatilitas pasar mulai mereda seiring aliran modal asing yang masuk ke pasar domestik.
Arus dana asing masuk ke pasar domestik, menopang stabilitas rupiah meski risiko volatilitas global tetap ada. Narasi jual Amerika masih membayang, namun momentum pembelian pada aset berisiko di beberapa sektor membantu rupiah bertahan. Secara teknis, pergerakan dolar relatif tenang karena pasar menahan diri sebelum berita utama.
Arah perdagangan diperkirakan tetap terbatas dalam kisaran 16.680–16.780, menandakan pasar menimbang risiko eksternal dan prospek kebijakan The Fed. Pasar menantikan konferensi pers The Fed untuk membaca arah kebijakan suku bunga AS di kisaran 3,50%-3,75% yang diperkirakan tidak berubah. Sementara itu, Bank Indonesia menjaga komitmen stabilitas melalui kebijakan suku bunga serta intervensi valas yang terukur.
Di sisi domestik, Bank Indonesia menegaskan komitmen menjaga rupiah dengan menahan suku bunga di level 4,75 persen. Langkah intervensi valas dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dinilai efektif menahan volatilitas hingga saat ini. Kebijakan tersebut sejalan dengan inflasi yang terkendali dan momentum perbaikan fundamental ekonomi.
Pemerintah tetap optimistis menargetkan pertumbuhan sekitar 5,2 persen untuk 2025 meski terdampak banjir besar akhir tahun lalu. Laju ekonomi diproyeksikan membaik pada kuartal IV, mendukung target 2026 sebesar 5,4 persen. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional tetap terjaga meski volatilitas global meningkat.
Di panggung global, investor menunggu hasil kebijakan The Fed yang diumumkan melalui konferensi pers. Narasi perdagangan yang tegang dengan mitra dagang utama menambah risiko bagi rupiah jika sentimen pasar berubah. Meski demikian, kebijakan BI tetap fokus pada stabilitas nilai tukar untuk menjaga fondasi ekonomi tetap kuat.
Dalam konteks dolar AS, Indeks DXY sempat rebound namun ruang penguatan greenback terbatas. Indeks bergerak sekitar 96,10 setelah koreksi sebelumnya, mencerminkan pasar yang berhati-hati terhadap peluang kenaikan lebih lanjut. Investor menilai laporan ketenagakerjaan dan indikasi arah suku bunga sebagai pendorong utama pergerakan USD.
Narasi jual Amerika masih membayangi sentimen global, sehingga dolar tidak sepenuhnya terjun ke zona kuat. Jika data AS menunjukkan pelemahan, dolar bisa melemah lebih lanjut, memberikan ruang bagi rupiah. Namun kehati-hatian tetap tinggi karena potensi intervensi kebijakan dan dinamika perdagangan global.
Ketegangan perdagangan yang kembali meningkat pasca ancaman tarif menambah risiko bagi rupiah. Pasar akan memantau pernyataan The Fed serta klaim kebijakan Indonesia terkait stabilitas nilai tukar. Secara keseluruhan, prospek USDIDR dipengaruhi oleh arus modal asing, arah kebijakan The Fed, dan tindakan stabilisasi BI.