Rupiah bergerak menuju area 16.769 per USD, menguat sekitar 0,16%. Hal ini menandai fase penyesuaian pasca tekanan kuat di awal Januari. Pasar terlihat menimbang peluang teknikal serta faktor fundamental yang dapat mengubah arah dalam beberapa sesi kedepan.
Dukungan utama datang dari data likuiditas domestik yang membaik. Bank Indonesia melaporkan pertumbuhan M2 Desember sebesar 9,6% secara tahunan, meningkat dari 8,3% sebelumnya. Akselerasi likuiditas disinyalir mendorong kelancaran kredit dan peningkatan uang kuasi, meskipun implikasinya terhadap inflasi masih menjadi perhatian.
Walau ada bantalan bagi rupiah, pasar juga menjaga eksposur sambil menanti katalis eksternal berikutnya. Analisis ini menggarisbawahi keseimbangan antara stabilitas keuangan dan dinamika nilai tukar yang sensitif terhadap berita global maupun domestik.
Data ekonomi AS yang dirilis menunjukkan aktivitas ekonomi masih berada di zona ekspansi, memperkuat pandangan bahwa dolar bisa tetap mendapat tekanan dari fluktuasi risiko. PMI S&P Global untuk Januari menunjukkan kombinasi aktivitas tetap tumbuh, meski layanan sedikit melunak, dengan pembacaan 52,8; manufaktur bertahan di 51,9. Sinyal ini menyoroti heterogenitas dalam sektor ekonomi, yang memengaruhi arah mata uang utama.
Survei University of Michigan juga menunjukkan perbaikan sentimen konsumen dan ekspektasi inflasi yang lebih rendah untuk satu dan lima tahun ke depan. Perbaikan ini menandai dinamika harga yang mulai mereda secara bertahap, sekaligus menambah peluang bagi mata uang berisiko lebih tinggi untuk menjaga gain moderat. Seiring dengan itu, pelaku pasar tetap menantikan data durabel untuk konfirmasi arah dolar.
Secara keseluruhan, pasar menilai data AS sebagai penentu utama arah dolar dalam beberapa sesi kedepan. Ketegangan antara ketahanan ekonomi AS dan polarisasi risiko global menciptakan jalur yang tidak pasti bagi USD, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi rupiah dan mata uang pasar berkembang lainnya.
Fokus utama pekan ini adalah pesanan barang tahan lama AS, khususnya komponen barang modal non-pertahanan di luar pesawat, sebagai indikator belanja investasi korporasi. Hasilnya akan menjadi sinyal penting bagi arah dolar dan volatilitas pasar mata uang. Karena komponen ini mencerminkan kepercayaan bisnis dan belanja modal, pergerakannya sering kali menjadi konfirmasi bagi jalur kebijakan moneter AS.
Hasil data tersebut akan menjadi penentu apakah dolar kembali mendapatkan dorongan atau memberi ruang tambahan bagi rupiah dan mata uang negara berkembang. Dalam skenario positif bagi dolar, kita bisa melihat tekanan pada rupiah meningkat, meskipun dukungan likuiditas domestik dapat menahan volatilitas. Sebaliknya, data yang lemah akan memberi ruang bagi EM untuk menguat lebih lanjut.
Penutup analisa menekankan, sinergi antara dinamika ekonomi AS dan kondisi likuiditas domestik Indonesia akan menentukan arah jangka pendek. Investor disarankan mengikuti rilis data utama dan menjaga manajemen risiko sesuai target investasi.