Nilai tukar Rupiah berada di sekitar 16.776 per dolar menjelang pengumuman kebijakan The Fed. Pelaku pasar menimbang potensi langkah yang akan diambil sambil menilai dampak terhadap arus modal serta ekspektasi mengenai jalur suku bunga ke depan. Gerak rupiah relatif terbatas karena pasar mencoba menyaring sinyal dari dinamika dolar AS dan kebijakan moneter global yang terus berubah.
Dolar AS bergerak melemah, terlihat dari penurunan Indeks Dolar (DXY) ke sekitar 97,12. Kondisi ini memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk mempertahankan levelnya, meskipun respons pasar tetap terbatas. Sinyal domestik terkait independensi Bank Indonesia menambah nuansa kehati-hatian, sehingga ruang untuk penguatan rupiah tetap dibatasi dalam jangka pendek.
Di panggung global, para pelaku pasar menempatkan posisi defensif sambil menunggu rilis data ekonomi AS hari ini. Pasar juga menanti pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang dijadwalkan akan disampaikan besok, karena komentar tersebut bisa mengubah ekspektasi jalur kebijakan. Secara umum, rupiah bergerak moderat meski ada kekuatan dolar AS yang tetap terukur dan intervensi kebijakan dalam negeri.
Di sisi domestik, sentimen terkait independensi BI membayang-bayangi pergerakan rupiah. Meski pengangkatan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI telah disetujui, pasar tetap menahan langkah karena perhatian terhadap arah kebijakan moneter jangka pendek. Otoritas BI menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui kerangka kebijakan yang kredibel.
Di level global, wacana tarif yang diusulkan Presiden AS meningkatkan risiko bagi perdagangan dan arus modal. Ketidakpastian tersebut mendorong mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih defensif. Investor menilai seberapa besar dampak kebijakan proteksionis terhadap likuiditas pasar dan ekspektasi suku bunga.
Meski data manufaktur AS yang solid pada November menambah dukungan bagi dolar, reaksi pasar terhadap rencana pemangkasan suku bunga The Fed tetap terbatas. Data inti pesanan barang tahan lama melonjak 5,3% MoM, dan pesanan modal inti meningkat, menandakan pemulihan aktivitas investasi swasta. Secara keseluruhan, rupiah cenderung terkendali karena dinamika data AS dan pernyataan Jerome Powell yang dinantikan.