Pembukaan perdagangan Senin menunjukkan guncangan besar di pasar keuangan Indonesia. Investor menyaksikan IHSG dibuka melemah 211,38 poin atau 2,79 persen ke level 7.374,31, sementara nilai tukar rupiah melemah ke sekitar Rp17.019 per USD. Pergerakan awal ini menegaskan adanya tekanan likuiditas dan risiko yang membayangi pasar lokal di awal sesi perdagangan.
Analisa ahli Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan ini berasal dari gabungan sentimen eksternal yang intens di Timur Tengah serta kekhawatiran mengenai sisi fiskal domestik. Faktor geopolitik meningkatkan volatilitas aset berisiko dan memperlebar spread antara ekspektasi pertumbuhan dengan risiko di pasar uang dan saham.
Dia menegaskan bahwa dinamika regional dan kebijakan domestik saling berpengaruh, menandai bahwa investor akan memperhatikan sinyal kebijakan serta pergerakan harga energi dalam beberapa hari ke depan untuk menilai arah pasar selanjutnya.
Harga minyak mentah melayang di sekitar USD117 per barel, menambah beban pada prospek ekonomi global dan ekspektasi inflasi. Ketegangan di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran bahwa jalur pasokan energi melalui Selat Hormuz bisa terganggu jika situasi memburuk.
Beberapa analis memperingatkan bahwa jika krisis belum terselesaikan dalam sebulan ke depan, harga minyak bisa mencapai level yang lebih tinggi. Ketidakpastian geopolitik ini memperkuat persepsi bahwa biaya energi bisa tetap tinggi meskipun upaya stabilisasi pasar sedang dilakukan.
Lonjakan harga minyak berpotensi menekan neraca pembayaran Indonesia dan memperburuk tekanan fiskal jika biaya impor energi membengkak. Dampaknya terhadap inflasi domestik juga menjadi fokus pengawasan bagi investor dan pembuat kebijakan.
Secara domestik, pasar memperkirakan defisit anggaran bisa membengkak karena lonjakan harga minyak dan ketidakpastian fiskal. Laporan menunjukkan kemungkinan defisit sekitar 3,6 persen terhadap PDB, sehingga pemerintah perlu mempertimbangkan realokasi anggaran lebih hati-hati.
Pemerintah diproyeksikan menimbang pemotongan atau realokasi program seperti MBG (Makan Bergizi Gratis) untuk menjaga keseimbangan fiskal. Kebijakan ini memperlihatkan bagaimana dinamika internasional bisa memaksa penyesuaian prioritas belanja negara.
Di sisi lain, proyeksi beberapa pihak terkait keluar dari komitmen internasional seperti Balance of Payments menambah nuansa ketidakpastian bagi investor. Cetro Trading Insight menilai volatilitas pasar perlu direspons dengan kebijakan yang konsisten dan transparan untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar.