Rupiah menutup sesi perdagangan Jumat dengan tekanan tipis, melemah ke level Rp16.925 per USD. Dampak sentimen global dan dinamika pasokan energi memicu volatilitas yang masih tinggi pada pasar valuta asing. Fenomena ini menggambarkan bagaimana faktor geopolitik dan fluktuasi harga minyak saling bergejolak memengaruhi nilai tukar harian di Indonesia.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah didorong oleh sentimen konflik di Timur Tengah. Pertempuran antara AS, Israel, dan Iran telah meningkat selama seminggu terakhir, dengan serangan rudal dan balasan yang meluas di wilayah regional. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global, yang pada akhirnya memicu risiko arus modal keluar.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah memperbesar kekhawatiran inflasi global, sehingga memberi ruang bagi bank sentral untuk lebih berhati-hati dalam kebijakan suku bunga. Higher crude prices menyebabkan tekanan biaya hidup dan inflasi, menambah beban bagi pemegang kebijakan di berbagai negara. Dalam konteks Indonesia, dinamika global ini memperkuat ketidakpastian terhadap arah fiskal dan moneter, sebagaimana dianalisis secara umum oleh Cetro Trading Insight.
Fitch Ratings telah menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, menambah tekanan pada proyeksi fiskal dan rasio pendapatan negara terhadap PDB. Langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar atas kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal. Risiko ini pada gilirannya dapat menambah volatilitas rupiah dalam jangka pendek.
Rasio pajak Indonesia historis berada di kisaran 9-10 persen terhadap PDB, dengan tren menurun pada 2024 hingga 2025. Angka 2024 sebesar 10,08 persen turun menjadi 9,31 persen pada 2025. Fitch memperkirakan rasio ini hanya akan mencapai 13,3 persen pada 2026-2027, jauh dari median negara BBB sekitar 25,5 persen.
Analisa Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp16.920 hingga Rp16.960 per USD. Rentang ini mencerminkan dominasi faktor global terhadap arus modal asing dan likuiditas pasar domestik. Sinyal teknikalnya menunjukkan pergerakan jangka pendek cenderung sideways, namun investor perlu waspada terhadap pergerakan mendadak jika berita geopolitik berubah, menurut Cetro Trading Insight.