
Rupiah ditutup di Rp17.963 per USD, turun 27 poin dari penutupan sebelumnya di Rp17.936. Pelemahan ini melanjutkan tren nilai tukar Asia yang rentan terhadap sentimen global. Pergerakan tersebut memperkecil peluang mata uang Garuda untuk menguat di jangka pendek.
Kombinasi risiko eksternal, seperti kebijakan proteksionisme dan gejolak energi, serta defisit neraca dagang domestik, menjadi pendorong pelemahan rupiah. Pasar juga mencermati dinamika harga minyak yang menguat akibat ketegangan di Timur Tengah dan gangguan pasokan global. Para pelaku pasar menilai bahwa faktor-faktor ini meningkatkan volatilitas dan mengurangi kepastian arus modal.
Ibrahim Assuaibi, Pengamat Ekonomi Mata Uang & Komoditas, menjelaskan bahwa kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat terhadap sekitar 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, menambah beban biaya impor. Tarif 10 hingga 12,5 persen diiringi eskalasi harga minyak dan risiko gangguan pasokan semakin memperlebar gap risk premium mata uang negara berkembang. Menurutnya, kebijakan tersebut juga dimaksudkan untuk mendorong mitra memperketat larangan produk berbasis kerja paksa dalam aliran perdagangan.
Di sisi luar negeri, kebijakan tarif AS membebani arus perdagangan dan meningkatkan kekhawatiran terhadap volatilitas pasar mata uang. Data tenaga kerja AS yang relatif kuat menambah dukungan bagi ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini menambah daya tarik aset berisiko di beberapa daerah, termasuk Indonesia.
Klaim pengangguran awal AS turun secara tak terduga menjadi 187.000, tingkat terendah dalam beberapa dekade, sehingga mendorong imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun ke level tertinggi sejak Januari 2025. Panasnya pasar tenaga kerja meningkatkan kekhawatiran bahwa kebijakan moneter akan tetap restriktif. Akibatnya, dolar cenderung menguat terhadap beberapa mitra dagang utama.
Sementara secara domestik, kebutuhan impor energi RI melebihi asumsi APBN-P membuat pemerintah menambah dolar AS. Defisit neraca dagang Mei 2026 membekas, dengan ekspor turun 5,73 persen menjadi US$23,2 miliar dan impor naik 22,16 persen menjadi US$24,81 miliar. Porsi bahan baku dan barang modal yang dominan di impor berpotensi memperburuk tekanan terhadap rupiah pada kuartal III 2026.
Secara teknikal, kisaran perdagangan rupiah diperkirakan berada di Rp17.960 hingga Rp18.020 per USD untuk pekan mendatang, dengan volatilitas yang relatif tinggi. Pelaku pasar menilai breakout di bawah atau di atas rentang tersebut bisa memberi sinyal arah jangka pendek. Adapun faktor fundamental seperti kebijakan global dan arus modal akan tetap menjadi penentu utama arah Rupiah.
Cetro Trading Insight menilai sentimen global yang masih rapuh dan risiko geopolitik menambah risiko pelemahan rupiah lebih lanjut. Meski demikian, faktor fundamental seperti dinamika fiskal serta pola ekspor-impor memberikan sedikit dukungan bagi mata uang negara berkembang jika likuiditas global tetap terjaga. Oleh karena itu, peta risiko dan peluang perlu dipantau secara cermat.
Saran trading: jika mengambil posisi beli USDIDR, pembukaannya bisa dilakukan di sekitar level saat ini dengan target sekitar 18.150 dan stop loss di 17.850. Rasio risk-reward mencapai lebih dari 1:1,5, sehingga memenuhi kriteria yang diinginkan. Pasar juga disarankan menjaga manajemen risiko yang disiplin mengingat volatilitas tinggi dan dinamika kebijakan global.