
Pembukaan perdagangan Senin terasa sebagai dentuman awal pasar yang menandai babak baru dalam volatilitas finansial domestik. Rupiah dibuka merosot ke Rp18.107 per USD, kemudian menyentuh Rp18.117 hanya dalam beberapa detik, sebelum akhirnya menembus Rp18.145 di awal pagi. Pukul 09.55 WIB, pelemahan telah meluas sekitar 0,6 persen, menegaskan tekanan dari dinamika dolar global yang tak tersentuh.
Di bawah tekanan itu, pergerakan rupiah terhenti untuk sebentar namun langsung melanjutkan tren pelemahan. Pada jam-jam selanjutnya, kurs lokal bergejolak mengikuti jejak dolar AS di pasar global, menambah beban bagi pelaku pasar yang menantikan arah jelas. Kondisi ini menempatkan rupiah pada posisi siap tergelincir lebih jauh jika sentimen global memburuk.
Penekanannya bukan hanya soal faktor domestik; gejolak geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan moneter bank sentral AS menjadi motor penggerak utama. Serangan militer AS terhadap wilayah Iran berimbas pada gangguan jalur logistik global, sementara Iran merespons dengan eskalasi yang memperburuk ketegangan regional. Menurut analis CTI, dampak ganda ini bisa mendorong rupiah melemah lebih lanjut dan IHSG menuju jalur yang lebih berisiko di bulan Juni.
IHSG tidak lepas dari bayang-bayang tekanan rupiah dan dinamika dunia. Indeks utama bursa nasional mengalami volatilitas tinggi di awal pekan, mengikuti pergerakan dolar yang menguat kuat di pasar internasional. Pelaku pasar menimbang risiko lebih lanjut jika ketegangan geopolitik berlanjut atau jika respons kebijakan fiskal dan moneter Amerika Serikat terus memukul likuiditas regional.
Analisis CTI mencatat adanya potensi IHSG menuju level sekitar 4.000 jika tekanan eksternal makin kuat, meski ada peluang kontra jika stabilitas geopolitik membaik. Sinyal teknikal cenderung berhati-hati dengan volatilitas meningkat, sehingga investor perlu menjaga rencana perdagangan yang disiplin. Meski demikian, peluang rebound tetap terbuka jika sentimen global membaik dan aliran modal kembali masuk ke pasar Indonesia.
Di tingkat regional, kombinasi risiko geopolitik Timur Tengah dan kebijakan The Fed mempengaruhi aset berisiko. Ketegangan di jalur Hormuz menambah biaya energi dan memberi tekanan pada pendapatan negara, memperbesar risiko bagi IHSG dan mata uang. CTI menilai bahwa jika sentimen global pulih, rupiah dan IHSG punya ruang untuk pulih meski jalur menuju perbaikan jangka menengah masih menghadapi rintangan yang signifikan.