
HSBC FX Viewpoint menyoroti dolar AS yang berada di persimpangan, dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah, perubahan kebijakan perdagangan AS, dan kilasan pandangan FOMC mendatang di bawah kepemimpinan Warsh. Dalam konteks ini, pergerakan harga minyak menjadi barometer utama; ketika pasokan terganggu, biaya energi cenderung naik dan hal itu cenderung mendukung daya dolar. Meski terdapat ekspektasi bahwa dolar bisa melemah dalam jangka panjang, setiap isyarat kenaikan suku bunga Fed tetap berpotensi memberikan dukungan sementara bagi greenback.
Historisnya, eskalasi ketegangan Timur Tengah sering berujung pada peningkatan harga minyak dan penguatan dolar secara umum. Saat ketegangan mereda, efeknya bisa berbalik ke arah pelemahan dolar. Saat ini pasar belum melihat resolusi cepat, sementara gangguan pasokan pada komoditas utama meningkatkan sentimen pasar secara keseluruhan.
Dalam kerangka analisis Cetro Trading Insight, faktor kebijakan moneter tetap menjadi penentu utama arah dolar. Pasar menanti bagaimana FOMC pada Juni akan menyikapi data ekonomi dan sinyal dari Warsh. Secara umum, prospek jangka panjang adalah dolar yang lebih lemah, namun tanda tanda hawkish bisa mengangkat dolar dalam jangka pendek, menyisakan volatilitas yang perlu diwaspadai.
Kebijakan perdagangan AS kembali menjadi topik utama setelah rilis proposal dari Office of the United States Trade Representative pada 2 Juni. Rencana tersebut menetapkan tarif 10–12,5% atas impor dari sekitar 60 negara terkait dugaan penggunaan kerja paksa dalam rantai pasokan. Meski ada pengecualian bagi barang yang memenuhi kriteria USMCA, rencana ini juga membuka jalur carve-outs tambahan setelah konsultasi publik berakhir pada 7 Juli.
Langkah fiskal ini menambah volatilitas di pasar mata uang karena mata uang regional bisa bereaksi berbeda terhadap perlakuan tarif. Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan FOMC yang akan berlangsung 16–17 Juni, dengan kepemimpinan baru Fed Warsh yang diperkirakan membentuk nada kebijakan. Para pelaku pasar menilai bahwa risiko hawkish bisa meningkatkan nilai dolar secara umum.
Seiring waktu, kombinasi antara dinamika perdagangan dan sikap kebijakan moneter akan menentukan arah dolar. Jika pesan hawkish terwujud, dolar berpotensi menguat terhadap sejumlah pasangan. Namun jika nada kebijakan tetap dovish atau netral, dolar bisa melemah dan pasar mencari peluang lain di kelas aset berisiko.
Hasil pembahasan HSBC menunjukkan bahwa episode hawkish repricing terakhir pada akhir 2024 memberi contoh bagaimana dolar bisa menguat secara luas. Namun basis utama saat ini adalah kemungkinan dolar melanjutkan tren melemah dalam jangka menengah hingga panjang jika Fed tidak mengisyaratkan kenaikan suku bunga. Analisis ini menekankan bahwa proyeksi jangka panjang lebih condong ke pelemahan dolar secara umum.
Untuk trader, skenario yang perlu dipersiapkan adalah dua arah, tergantung pada pernyataan dan data ekonomi. Jika Fed tidak menaikkan nada, EURUSD bisa menguat karena ekonomi zona euro relatif lebih resilien. Di sisi lain, jika rhetoric hawkish muncul, dolar bisa menunjukkan pemulihan singkat dan menguji level teknis tertentu.
Kesimpulan dari Cetro Trading Insight menyoroti bahwa pasar berada di persimpangan dan memerlukan kehati-hatian ekstra. Dalam situasi seperti ini, perhatikan data ekonomi, pernyataan pejabat Fed, serta sinyal kebijakan perdagangan untuk mengarahkan keputusan investasi. Artikel ini disusun untuk membantu pembaca awam memahami dinamika yang mempengaruhi arah dolar tanpa mengandalkan spekulasi berlebihan.