Bursa saham Asia melemah pada Kamis karena meningkatnya kekhawatiran atas rapuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran yang masih mengganggu arus pelayaran di Selat Hormuz. Pasar juga menimbang potensi eskalasi konflik yang dapat menekan likuiditas global. Sentimen risk-off makin kuat ketika investor menilai stabilitas regional belum pulih.
Laporan The Wall Street Journal menunjukkan Iran memberi mediator peringatan bahwa kapal yang melintas akan dibatasi sekitar selusin kapal per hari dan dikenakan tol selama dua pekan gencatan. Kebijakan ini menambah kekhawatiran terhadap jalur pasokan energi. Data S&P Global Market Intelligence menunjukkan hanya empat kapal melintas pada Rabu, angka terendah sepanjang bulan ini.
Perbedaan pandangan antara Iran dan AS mengenai cakupan gencatan juga meningkatkan ketidakpastian pasar. Iran menegaskan gencatan harus mencakup Lebanon, sementara AS menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan. Kondisi ini memperparah volatilitas pasar global dan membuat investor berhati-hati terhadap risiko eskalasi di wilayah tersebut.
Minyak mentah berbalik menguat di tengah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan dapat berlanjut. Brent naik sekitar 3,1 persen ke USD97,61 per barel, sementara WTI menguat 3,6 persen ke USD97,85 per barel. Analis menilai tren ini bisa berlanjut jika arus pelayaran tetap terganggu.
Vivek Dhar dari Commonwealth Bank of Australia menilai risiko kenaikan harga minyak lebih besar dibanding penurunan selama Selat Hormuz tetap tertutup. Ia menambahkan pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada kelanjutan gencatan, normalisasi arus pelayaran, dan kecepatan pemulihan rantai pasok energi. Korelasi antara gejolak di pasar minyak dan sentimen saham menjadi faktor pendorong utama hari ini.
Sejalan dengan sentimen tersebut, mayoritas bursa Asia bergerak di zona merah. Nikkei Jepang turun sekitar 0,46 persen setelah sebelumnya melonjak tajam, Kospi Korea Selatan turun 1,20 persen. Dolar AS menguat sekitar 0,2 persen terhadap yen, dan mata uang regional lain melemah terhadap dolar.
Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik seperti sekarang, investor disarankan untuk meninjau risiko pada portofolio mereka. Fokus utama adalah memantau perkembangan gencatan, normalisasi arus pelayaran di Selat Hormuz, serta kecepatan pemulihan rantai pasok energi. Kunci manajemen risiko adalah menjaga likuiditas dan menghindari eksposur berlebihan pada aset berisiko saat volatilitas memuncak.
Indikator yang perlu diawasi meliputi pergerakan harga minyak, arus kapal di Selat Hormuz, dan volatilitas mata uang Asia terhadap dolar. Analisis teknikal bisa berguna untuk mengkonfirmasi arah, namun faktor fundamental seperti politik regional lebih dominan saat ini. Pelaku pasar disarankan menimbang kombinasi aset defensif dan opsi kebijakan pemerintah dalam portofolio.
Untuk jangka menengah, diversifikasi menjadi kunci mengingat adanya risiko eskalasi lebih lanjut. Memperhatikan likuiditas pasar serta rencana entry dan exit yang jelas bisa membantu menjaga risk-reward minimal 1:1.5. Dengan demikian, sektor energi dan indeks global dapat memberikan eksposur yang seimbang jika diatur dengan disiplin.