Harga minyak WTI menguat ke sekitar US$92.80 per barel pada sesi Asia Kamis, mencatat kenaikan sekitar 1,75 persen untuk hari itu. Pergerakan pasar dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan komentar mengenai pelanggaran gencatan senjata. Meski demikian, faktor pasokan juga mempengaruhi dinamika harga sehingga arah tidak sepenuhnya terlihat jelas.
Beberapa pelaku pasar menilai eskalasi militer dan klaim pelanggaran berpotensi mengubah risiko pasokan minyak secara global. Hezbollah mengklaim menembakkan roket ke Israel utara sebagai balasan atas apa yang disebut pelanggaran gencatan senjata. Sementara itu, para pemimpin negara besar menegaskan bahwa gencatan tidak mencakup operasi di Lebanon, menjaga narasi ketegangan tetap hidup.
Analisis menyarankan bahwa jika risiko geopolitik meningkat lebih lanjut, harga bisa mendapat dukungan. Namun data persediaan dan preferensi untuk berhati-hati di pasar dapat membatasi lonjakan jangka pendek, menjadikan momentum bergerak fluktuatif.
Menurut laporan mingguan EIA, persediaan minyak mentah AS naik 3,081 juta barel untuk pekan yang berakhir 3 April, melanjutkan tren kenaikan pasokan domestik. Angka ini menambah tekanan pada dinamika harga, karena meningkatnya stok sering kali menahan potensi kenaikan lebih lanjut.
Konsensus pasar sebelumnya memperkirakan kenaikan sekitar 5,451 juta barel, sehingga realisasi terlihat lebih rendah dari ekspektasi. Perbedaan ini menambah kejutan bagi trader minyak dan menyoroti volatilitas yang melekat pada data inventori mingguan.
Secara keseluruhan, kombinasi antara ketegangan geopolitik dan perubahan pasokan domestik membuat arah harga WTI tetap rapuh. Investor disarankan memantau pembaruan situasi di Timur Tengah serta rilis data ekonomi berikutnya untuk menilai risiko jangka pendek.